Menakar Kinerja Penangan Covid 19 Di Tanah Intan Bulaeng

129

Oleh: Iwan haryanto, S.H., M.H

Beberapa minggu kemarin angka covid 19 di Kabupaten Sumbawa mengalami lonjakan cukup fantastik. Hal ini didasarkan pada hasil riles yang disampaikan oleh tim gugus tugas penangan covid 19 mencapai angka 17 orang yang positif, sehingga total di Kabupaten Sumbawa mencapai 41 orang (Dinas Kesehatan Sumbawa, 25 Agustus 2020).

Tingginya lonjakan angka covid 19 membuat publik merasa heran terhadap penanganan virus tersebut. Pasalnya, tim pelaksana gugus tugas percepatan penanganan covid 19 yang dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2020 Tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019, Pasal 11 ayat 1, gubernur dan bupati/walikota membentuk gugus tugas percepatan penanganan covid 19 di daerah tidak begitu signifikan dalam memperlihatkan hasil.

Tim gugus tugas ini, tentu memiliki fungsi; menetapkan dan melaksanakan rencana operasional percepatan penanganan COVID-19, mengoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan percepatan penanganan virus Corona, melakukan pengawasan pelaksanaan percepatan penanganan COVID-19, dan mengerahkan sumber daya untuk pelaksanaan kegiatan percepatan penanganan COVID-19. Untuk melaksanakan tugas itu, tentu difasilitasi menggunakan APBD atau anggaran tidak mengikat guna mempercepat penanganan covid 19.

Berbagai tugas yang diamanatkan kepada tim gugus tugas penangan covid 19 kabupaten sumbawa belum berbuah manis. Karena angka covid 19 mengalami lonjakan cukup fantastik. Hasil riles dinas kesehatan provinsi NTB pada tanggal 15 Juli 2020, angka covid 19 di kabupaten sumbawa berjumlah 30 orang. Pada tanggal 22 Juli 2020 sebanyak 31 orang, kemudian pada tanggal 12 Agustus 2020, dinas kesehatan kabupaten sumbawa menyampaikan perkembangan angka covid 19 sebanyak 41. Akibat covid ini ada 8 orang yang meregang nyawa. Ini artinya perkembangan covid 19 di kabupaten sumbawa mengalami peningkatan yang cukup signifikan (Data Dinas Kesehatan Kabupaten sumbawa, 2020).

Tak bisa di pungkiri meningkatkannya angka covid 19 di kabupaten sumbawa tidak bisa lepas dengan fungsi control tim gugus tugas penanganan covid 19. Karena keberadaan tim gugus tugas merupakan tim sentral yang memiliki kapasitas penanganan covid 19 yang diamanatkan oleh undang-undang. Tentu memiliki kewenangan dalam melakukan pencegahan, pengendalian, dan pengawasan terhadap aktivitas yang menimbulkan keramaian, kerumunan, dan bahkan aktivitas yang berpotensi terjadinya penyebaran virus corona tersebut.

Sungguh ironis, meningkatnya penyebaran covid 19 di kabupaten sumbawa diduga terjadi pada acara perkawinan hal ini ungkap Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si pada tanggal, 25 Agustus 2020 (suarantb.com).

Tidak bisa di pungkiri maraknya acara perkawinan di kabupaten sumbawa hampir setiap hari, baik di desa maupun di kota-kota. Perkawinan masyarakat sumbawa yang tidak bisa lepas dengan tradisi dan adat istiadat, mulai dari bajajag, bakatoan, basaputis, nyorong, barodak rapancar, enti ling, nikah, dan basai. Berbagai rangkai tradisi tersebut menghadirkan banyak orang. Tidak hanya satu orang tetapi lebih dari puluhan orang. Sehingga berpotensi terjadinya keramaian dan kerumunan dari setiap kegiatan.

Tidak hanya itu, aktivitas pasar di buka lebar-lebar. Banyak pedagang dan pembeli baik lokal maupun luar daerah mengisi aktivitas melalui jualan sayur, ikan, jagung, pakaian, ayam, hingga tempat parkiran. Aktivitas ini menimbulkan keramaian, kerumunan, bahkan sosial distancing tidak dilakukan. Ada sebagai pedang maupun pembeli yang tidak dilengkapi masker. Di pintu-pintu masuk pasar jarang di beri petunjuk atau tempat cuci tangan (hasil investigasi PUSHAM, 2020).

Belum lagi masyarakat jarang menghiraukan protokol kesehatan dalam penangan covid 19. Banyak masyarakat yang tidak diam di rumah, tidak memakai masker, jaga jarak, dan jarang membawa han sanitesair. Padahal semua fasilitas tersebut merupakan langka preventif pencegahan covid 19.

Berbagai aktivitas tersebut, tim gugus tugas penanganan covid 19 kabupaten sumbawa luput dengan kegiatan itu. Padahal tugas tim gugus penangan covid 19 melakukan koordinasi dan komunikasi dalam upaya pencegahan, pengendalian, dan pengawasan terhadap aktivitas yang menimbulkan keramaian, kerumunan, hingga mendorong adanya jaga jarak (sosial distancing) guna melakukan pencegahan terhadap penyebaran covid 19.

Menelisik perkembangan kinerja tim gugus tugas penanganan covid 19 mulai redup. Pasalnya ketika covid 19 hadir Kabupaten Sumbawa melalui warga lunyuk yang terindikasi covid 19. Upaya yang dilakukan oleh tim gugus tugas sangat agresif, mulai dari isolasi, contact tracking, penjagaan pintu masuk dan keluar sumbawa, disinfektan, sosialisasi, hingga melakukan lockdown di beberapa aktivitas publik. Beberapa bulan yang lalu pernah melakukan rapit tes di pasar sehingga menemukan beberapa terindikasi covid 19 (www.kabarsumbawa.com).

Namun upaya ini mulai berkurang dan tidak maksimal dalam melakukan penangan covid 19. Justru tim gugus tugas, fokus penanganan pasien yang terkena covid 19 dan tidak melakukan pencegahan terhadap penyebaran covid 19. Padahal tim ini dibekali anggaran yang cukup fantastik, 118,2 miliar. Redupnya upaya preventif yang dilakukan oleh tim gugus tugas penangan covid 19 ini terlihat maraknya kegiatan kemasyarakatan, mulai dari acara perkawinan, khitan, tama bale, hingga kegiatan formal (seminar) yang nota bene mengundang masyarakat banyak.

Sungguh aneh di tengah meningkatnya angka covid 19 di tanah intan bulaeng ini, kegiatan yang mengundang masyarakat banyak tidak ada upaya pelarangan oleh tim gugus tugas penangan covid 19. Tetapi, di bolehkan asalkan sifatnya pribadi dan tidak ditempat umum, seperti gedung, bale pertemuan, dan tempat lain-lain. Sehingga wajar banyak kegiatan kemasyrakatan yang hidup ditengah-tengah masyarakat.

Tidak hanya itu upaya tim gugus tugas penangan covid 19 tidak begitu serius dalam penangan covid 19. Ini terlihat upaya identifikasi terhadap masyarakat yang keluar rumah, masyarakat yang berada di pasar, masyarakat yang berada di kantor, masyarakat yang keluar daerah. Data-data ini tidak ada sehingga keseriusan dalam mengurangi angka covid 19 di kabupaten sumbawa tidak begitu jelas, maka wajar perkembangan covid 19 mengalami peningkatan.

Berbeda dengan daerah lain justru serius penangana covid 19. Seperti Jawab Barat dengan konsep tiga benteng pertahanan dalam penaganan covid 19, seperti benteng pencegahan, pelacakan dan perawatan. Pencegahan melakukan PBSB, penerapan sosial distancing, mencegah kerumunan dan keramaian serta melakukan sosialisasi penerapan protokol pemerintah. Kemudian pelacakan melalui tes masif sebanyak-banyaknya atau mendekati 0,6% dari jumlah penduduk. Begitu juga dengan benteng diperawatan yakni menyiapkan 105 rumah sakit rujukan, peralatan ventilator buatan lokal, dan keperluan medis lainnya guna mengurangi perkembangan angka covid 19.

Ketidak serius dalam penangan covid 19 terlihat pada semangat mendesain dan mengesahkan peraturan bupati (Perbup) Sumbawa Nomor 43 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. Peraturan bupati ini memuat sanksi yang berupa kerja sosial dan denda. Peraturan tersebut tentu bertentang dengan irama Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perudang-undang, pasal 15 materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat di muat dalam UU dan peraturan daerah. Ketentuan pidana berupa denda dan kurungan. Ini menyewantahkan bahwa tim gugus tugas penangan covid 19 kabupaten sumbawa tidak begitu serius dalam penangan covid 19.

Penulis: Dosen Fakultas Hukum UNS

Anda mungkin juga berminat