Sejarah Kopi Dari Ethiopia Hingga Tawangmangu

171

Oleh : Deni Sidharta (Praktisi Hukum dan Penikmat Kopi)

JAKARTA (Garudanews.id) – Banyak versi sejarah tentang bagaimana Kopi menjadi salah satu minuman yang tidak sekedar penghilang dahaga namun menjadi suatu bentuk gaya hidup. Salah satu versinya dimulai dari seorang gembala kambing dari Ethiopia (pada tahun 800 an) bernama Kaldi, yang merasa heran melihat kambing-kambing yang digembalakannya menjadi lincah dan energic, setelah memakan biji-bijian berwarna merah yang berserakan di ladang pengembalaannya.

Penasaran dengan hal tersebut, Mas Kaldi pun mencoba memakan biji-bijian tersebut dan kemudian mendapatkan sensasi luar biasa, dimana dia merasa lebih semangat dan betah melek, susah tidur.

Berita mengenai kambing yang menjadi lincah dan Kaldi yang betah melek inipun didengar oleh seorang pendeta (Monk) yang kemudian mencoba menumbuk biji kopi itu dan merendamnya dalam air dan meminumnya. Diapun merasakan hal yang sama, menjadi betah melek, dan tanpa sengaja dia juga menumpahkan beberapa biji kopi di perapian dan merasakan aroma yang segar dari kopi yang terbakar tersebut, dan hal inilah yang kemudian oleh pedagang Arab dikembangkan menjadi Teknik roasting (menyangrai) kopi yang kita kenal sekarang ini.

Perkembangan kopi mengalami dinamika tersendiri, bahkan sempat diusulkan agar menjadi minuman yang diharamkan.
Biji kopi pun menjadi suatu komoditas yang dicari dan kemudian para pedagang Arab pun membeli dan membawa tanaman Kopi tersebut ke Yaman, dan mengembangkan kopi dalam suatu perkebunan kopi. Cara pengolahan pun dikembangkan hingga menjadi kopi sebagaimana disajikan sekarang, dan dinamakan Qafwa (kalau ditejemahkan secara literal berarti “sesuatu yang mencegah kantuk”), Qafwa pun diperdagangkan kesegala penjuru, dan di Turki disebut Kahveh, di Belanda disebut Koffie dan di Inggris menjadi Coffee, di Jawa, karena aksara Ha Na Ca Ra Ka tidak mengenal huruf F maka jadi Kopi.

Perkebunan Kopi di Yaman ini dijaga ketat agar perdagangan kopi dapat dikuasai atau dimonopoli, hingga suatu saat seorang pedagang Belanda berhasil mengambil dan menyelundupkan biji kopi dari daerah Mocha dan kemudian mengembangkan kopi di wilayah jajahannya, dimulai dari Srilangka, kemudian ke wilayah jajahannya di timur jauh, yaitu di Jawa. Penanaman pertama pada tahun 1696 dilakukan di wilayah Batavia yang sekarang kita kenal sebagai daerah Pondok Kopi (Jakarta Timur) namun penanaman tersebut gagal karena adanya banjir sungai Ciliwung.

Kemudian Wali Kota Amsterdam Nicholas Witsen memerintahkan komandan VOC di Pantai Malabar, Adrian van Ommen untuk membawa bibit kopi di tahun 1699 dan ditanam di daerah sekitar sungai Ciliwung mulai dari daerah Meester Cornelis (sekarang jatinegara) Bogor, Priangan, Cirebon, Kedu, dan Bondowoso. Benih kopi yang dibawa tersebut adalah benih Kopi Arabica.

Pertumbuhan kopi di Jawa berlangsung sangat bagus, karena kesuburan tanahnya dan dibantu dengan adanya system Cultuur Stelsel (Tanam Paksa) di Jaman Deandels, sehingga di tahun 1717 (18 tahun seteah penanaman), Belanda mulai melakukan ekspor dari semula ratusan kilo hingga kemudian menjadi 60 000 kilo, (hingga kemudian 1.208 kwintal pada tahun 1842 dan meningkat menjadi 11.145 kwintal pada tahun 1857) dan Amsterdam-pun menjadi pusat perdagangan kopi dari Jawa di Eropa. Kopi dari Jawa ini menguasai perdagangan di Eropa, sehingga ketika menyebut Java, maka asosiasinya adalah Kopi. This is why coffee has the nickname “java.”

Kopi di Karanganyar

Perkebangan kopi di wilayah Karanganyar dilakukan pada masa bertahtanya KGPA Arya Mangkunegara IV (1853-1881). KGPA Mangkunegara IV ini juga yang membangun Pabrik Gula Tasikmadoe dan Tjolomadoe.

Pengembangan kopi di wilayah Karanganyar dimulai dengan penanaman di Karangpandan dengan mengambil benih kopi dari daerah Gondosini (Bulukerto) Wonogiri.

Penanaman dilakukan di 24 wilayah kekuasaan Mangkunegaran dimana dari 24 tersebut dibagi 2 masing-masing terdiri dari 12 wilayah. Wilayah dikepalai oleh seorang Administratur Kopi, yang diambil dari Orang Belanda, yaitu Rudolf Kampff yang membawahi kedua bagian tersebut, dan masing-masing bagian tersebut diawasi oleh Seorang Penilik atau Inspektur Kopi yaitu J. B. Vogel, berkedudukan di Tawangmangu yang membawahi wilayah Karangpandan, Tawangmangu, Jumapolo, Jatiyoso, Jatipuro, Ngadirojo, Sidoarjo, Girimarto, Jatisrono, Slogohimo, Bulukerto dan Purwantoro. Masing-masih wilayah tersebut dikepalai oleh seorang Penewu Kopi dan Mantri Kopi. Dalam struktur pemerintahan Penewu ini sejajar dengan posisi Camat.

Bandingkan struktur pengelolaan Kopi ini dengan pengelolaan Hutan di bawah Perhutani, dari mulai Administratur (menguasai wilayah se-karesidenan) kemudian ada Sinder (menguasai satu wilayah KPH-kesatuan Pemangukan Hutan) dan ada juga Mantri.

Perkebangan Kopi yang sedemikian pesat, kemudian mulai mendapatkan masalahan pada pada tahun 1876 karena adanya serangan penyakit karat daun (Hemileia Vastatrix). Penyakit ini menyerang tanaman Kopi Arabica yang ditanam di dataran rendah, sehingga tanaman kopi Arabica yang ditanam di daerah dengan ketinggian diatas 1000 mdpl relative aman dari serangan ini. (Masalah lainnya adalah perubahan pengelolaan setelah wafatnya KGPA Arya Mangkunegara IV dan ketidakjujuran si Vogel).

Namun serangan ini sangat merugikan usaha perkopian Mangkunegaran dan sejak tahun 1900 masuklah bibit kopi Robusta, yang relative lebih tahan penyakit dan pemeliharannya relative mudah.

Dulu, di belakang rumah saya ada tanaman kopi yang sudah sangat besar, dan menurut mas Slamet (suaminya Mba Monah) tanaman kopi itu sudah ada sejak jaman Belanda. Sayang tanaman itu sudah ditebang.

Namun masih ada harapan dengan adanya beberapa tanaman kopi di daerah Gondosuli yang masih dipertahankan oleh Mas Aji Sudarsono Mas Sandiono Karni, Mas Agus Suroto Oye dan teman-teman di sana. Semoga Sejarah kejayaan kopi bisa Kembali berulang dari Gondosuli.

Disarikan dari berbagai sumber sebagaimana tertera di gambar dan juga kompasiana, mangkunegara dan lain-lain.

Editor: Sunyoto

Anda mungkin juga berminat