Walikota Bekasi: Tidak Ada Jam Malam Di Wilayah Kota Bekasi

450

BEKASI, (Garudanews.id) – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan oleh DKI Jakarta, berdampak besar bagi kota Bekasi. Dampak yang dirasakan karena banyak warga kota Bekasi yang menjalankan aktifitasnya di wilayah DKi Jakarta.

“Kalau dampak betul-betul DKI Jakarta melaksanakan PSBB secara total, tentunya ada pengaturan ketat, saat pengaturan ketat itu tentunya menguntungkan warga kota Bekasi yang bekerja di Jakarta, artinya diatur kembali, di reset kembali hubungan transmisinya ini, tapi kalau pgbb nya biasa saja kita antisipasi dampaknya,” kata Walikota Rahmat Effendi di RW 019 kelurahan Jakasetia, Bekasi Selatan pada Rabu (16/09).

Terkait dengan pemberlakukan jam malam, Walikota Bekasi membantah hal tersebut. Menurutnya, Pemkot Bekasi hanya akan membatasi jam operasional tempat publik seperti rumah makan diperbolehkan hanya sampai pukul 21:00 wib dan tempat hiburan malam hanya boleh operasi dari pukul 14:wib sampai pukul 23:00 wib.

“Ini yang terus kita antisipasi, Kota Bekasi tidak ada jam malam, tapi mengendalikan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang pertama pasar, stasiun, terminal dan sarana dan prasarana publik, mall tempat hiburan, kita kendalikan artinya kita awasi ketat,”

Lebih lanjut walikota menjelaskan bahwa pengawasan di wilayah akan didukung dengan operasi yustisi dengan melibatkan perangkat di wilayah masing -masing pada setiap kelurahan di Kota Bekasi.

“Boleh operasi yustisi itu bagian dari pengendalian ketat, hanya saja kita lakukan ini dalam skala kecil, skala kecilnya ada di RW, untuk itu RT dan RW nya hasil aktif,”

Diketahui, Kota Bekasi saat ini dalam masa Adaptasi Tatanan Hidup Baru (ATHB). Berbeda dengan wilayah DKI Jakarta yang memberlakukan PSBB total, namun tentu saling berkaitan karena Kota Bekasi berbatasan langsung dengan DKI.

Di kota Bekasi kasus Covid-19 cluster keluarga sebanyak 212 keluarga dengan 600 jiwa, namun hingga saat ini angka tersebut dikatakan Walikota semakin menurun.

“Sekarang berkurang karena kita terus intens melakukan Rapid dan swab dan melakukan sosialisasi terhadap keluarga yang berdekatan dengan wilayah yang ada RW dan RT yang terdampak cluster keluarga, tapi frekuensinya sekarang menurun,” tandasnya. (Mam)

Anda mungkin juga berminat