Eks Tripoli dan Panglima GAM se-Aceh adakan Pertemuan 

2.767

Lhoksukon (Garudanews.id) – Perjalanan perdamaian antara pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Dangan pemerintah republik Indonesia yang sudah mencapai lima belas tahun lamanya. Penandatangan MoU Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005 di Swedia itu masing-masing di wakili oleh petinggi, dari pihak GAM saat itu diwakili oleh Malek Mahmud yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri GAM sedangkan dari pemerintah republik Indonesia di wakili oleh Hamid Awaluddin yang saat itu menjabat sebagai kemenkumham.

Pada saat – saat awal proses perdamaian terjadi semua masyarakat Aceh dan juga kalangan internal GAM menyambut nya dengan suka cita dan penuh kegembiraan, namun setelah perdamaian damai sudah mencapai 15 tahun aura lain terpancar dari kalangan internal GAM itu sendiri.

Di mana banyak kalangan GAM dari segala lapisan merasa mereka telah ditipu oleh pemerintah Indonesia ,dimana banyak poin-poin MoU Helsinki yang diduga dilanggar oleh pemerintah Indonesia, hal ini di ungkapkan oleh Tgk Zulkarnain bin Hamzah selaku Ketua Mualimin Aceh (KMA) usai menggelar Acara silaturahmi seluruh mualimin seaceh dan seluruh panglima GAM seAceh , di gedung kantor Dewan perwakilan wilayah (DPW) Partai Aceh (PA) di desa Mancang kecamatan Samudera kabupaten Aceh Utara, Minggu (18/10/2020).

“Dalam rangka temu ramah , dan juga memikirkan masalah poin -poin MoU Helsinki yang sudah ditelantarkan oleh pemerintah pusat sudah sampai 15 tahun,” ucap Tgk ni.

Dirinya menambahkan bahwa kegiatan ini adalah untuk mengimput suara – suara tentara GAM seluruh Aceh yang unek – unekya disampaikan kepada kami, sudah lima belas tahun pusat tidak menyelesaikan MoU Helsinki,kami telah ditokoh lagi oleh pemerintah pusat untuk ke empat kali.

“Tanyoe Aceh kadipeunget loem le pusat ke empat kali , dari thoen 1945, 1953,1965 dan tahun 2005 pih kadineuk peunget Lom perjanjian damai kita sudah ditipu oleh pemerintah pusat,” ucap Tgk ni dalam bahasa Aceh kepada sejumlah awak media.

“Maka kamoe Hana meuteurimong pengeut nyan le ,kamoe GAM menurut kamoe input di lapangan tentra GAM di mandum lapisan yang na di Aceh , maka kamoe Hana meuteurimong tentang pusat perlakuan Indonesia kepada bangsa Aceh yang seperti ini,” tambahnya dalam bahasa Aceh.

Tindakan

Dengan perlakuan yang menurut internal GAM telah ditipu oleh pemerintah Indonesia sejumlah awak media menanyakan tindakan apa yang bakal dilakukan apabila poin-poin MoU Helsinki ini tidak di implementasikan sepenuhnya ?

“Kami tetap akan melakukan nya secara diplomasi , kami tetap melakukan secara di plomat karena kita selaku bangsa Aceh bangsa yang beradab maka akan kita lakukan secara beradap , tapi kalau itu pun secara tidak ampuh , itu rahasia kami ngak boleh kami terangkan kepada wartawan dan itu perlu dimaklumi,” jawab Tgk ni

Dia juga menambah bahwa banyak kalangan GAM di segala lapisan sudah tidak sabar lagi dengan keadaan yang seperti ini, namun mereka saat ini masih mengindahkan intrusi dari pimpinan mereka yaitu wali Nanggroe Malek Mahmud Al haytar dan juga Muzakir Manaf untuk bersabar.

“Kesabaran kita sebenarnya sudah tidak ada Sampek-sampek lagi , karena sudah lewat Sampek Artinya tidak sabar lagi , kami input suara suara GAM di lapangan tidak sabar lagi, cuma kami masih menerima pandangan dari pemimpin kami yaitu wali Nanggroe Malek Mahmud Al haytar dan juga dari panglima GAM Muzakir Manaf. Yang masih menyuruh kami untuk sabar, dan kami taat kepada pemimpin,” jelas ketua Mualimin Aceh.

”Hana Saba le, cuma kamoe mantoeng karena pemimpin mantoeng geupeusaba kamoe , wali mantoeng peusaba kamoe , mualem mantoeng peusaba kamoe, nyan keuh kamoe Saba , taat pemimpin,” ungkapnya dalam bahasa Aceh.

Tapi waktunya tidak mungkin bisa kita bendung selamanya dan suatu saat pasti akan datang seperti banjir datang dan ini tidak bisa kita bendung, dan kami harapkan kepada pemerintah pusat jangan main-main lah sama Aceh sudah cukup lah. Dan semua poin – poin MoU itu penting dan perlu dituntaskan dengan segera. Harapnya kepada pemerintah Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut di hadiri oleh seratus anggota GAM eks Tripoli dan juga puluhan panglima GAM se Aceh serta ulama kharismatik Aceh Tgk Muhammad Ali atau lebih dikenal dengan sebutan Abu paya pasi dan juga terlihat eks GAM berjaga jaga di sekitar kantor DPW PA Aceh Utara ,ada yang mengenakan pakaian putih celana hitam dan juga pakai bebas lainnya, acara tersebut dimulai sekitar jam 14.00 wib dan selesai sekitar jam 17.00 wib dilakukan secara tertutup. (Syahrul)

Anda mungkin juga berminat