Gubernur Jateng Kagumi Kesederhanaan Tokoh Muhammadiyah

113

JAKARTA (Garudanews.id) – Kesederhanaan tokoh Muhammadiyah membuat decak kagum (jawa: gumun) banyak pihak tak terkecuali orang nomor satu di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Kesederhanaan itu tercermin bukan dari apa yang ia serukan di mimbar seminar dan forum-forum pidato tetapi dari sepercik foto yang diunggah di media sosial oleh seorang netizen (sebutan warga net) dan kemudian menjadi viral.

“Saya melihat dua foto yang viral dimedia sosial sepertinya itu foto lama yang kembali diunggah netizen. Di foto pertama terdapat seorang lelaki tua terlihat dalam barisan antrian sambil tangannya bertopal ketongkat, “ kata Ganjar dalam sambutan Respesi Milad ke-108 Muhammadiyah, pada Rabu (18/11/2020), seperti yang dikabarkan laman resi Muhammadiyah.

Sama halnya dengan foto yang pertama, kata Ganjar foto kedua juga menujukan lelaki tengah duduk disamping tas dan kardus bawaanya sambil memegang handphone.

Melihat kesederhanaan itulah Gubernur Jawa Tengah menggambarkan apa yang disampaikan seorang penyair ternama, Taufiq Ismail mengatakan ‘kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit jadilah belukar tetapi belukar yang baik yang tumbuh di tepi danau. Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar jadilah saja rumput tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan, kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya jadilah saja jalan kecil tetapi jalan setapak yang membawa orang kemata air.

Dua foto yang disampaikan Ganjar adalah yang pertama Buya Syafii Maarif seorang Tokoh Bangsa, Cendekiawan Muslim dan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah sedangkan difoto yang kedua adalah Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah saat ini.

“Terkadang jejak yang seperti itu akan lebih menancap disanubari masyarakat dibanding pelajaran akhlak yang kita sampaikan. Laku dalam foto kedua itu seperti jalan setapak yang membawa orang ke mata air,” sebut Ganjar dalam sambutannya.

Ganjar Pranowo juga menyebutkan kiprah Muhammadiyah bukan laksana minyak dalam bejana air karena pastilah air tersebut tidak bisa digunakan. Tetapi sejak proses kelahirannya oleh Kiai Ahmad Dahlan.

“Jika kita memilih menjadi minyak dalam sebejana air bukan manfaat yang akan lahir karena jika tidak dibuang pastilah air itu tidak bisa digunakan sejak diproses kelahirannya oleh Kiai Ahmad Dahlan, Muammmadiyah tidak pernah jauh atau menjadi beda dari masyarakat,” sebut Ganjar.

Tetapi Kiai Ahmad Dahlan, kata Ganjar menjadi beringin yang tegak di puncak bukit keilmuan menjadi belukar baik dalam pergaulan, jadi rumput penguat dalam tatanan kehidupan beliau melahirkan bukan hanya jalan raya tapi juga jalan setapak pada air. (red)

Anda mungkin juga berminat