PDIP Enggan Partainya Diseret dalam Kasus Suap di Kementerian KKP

135

JAKARTA (Garudanews.id) – Kasus operasi tangkap tangan (OTT) Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam dugaan suap izin ekspor benih lobster yang menyeret nama politisi PDIP Andreau Misanta Pribadi terus bergulir. Pasalnya Staf Khusus Menteri KKP itu kini melarikan diri. Diketahui, Andreau adalah calon anggota legislatif PDIP dalam Pemilu 2019.

Terkait dengan persoalan tersebut, Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango menyatakan dua dari tujuh tersangka korupsi izin ekspor benih lobster masih buron. Lembaga antirasuah itu meminta dua tersangka tersebut menyerahkan diri.

“KPK mengimbau kepada dua tersangka, APM (Andreau Misanta) dan AM (Amiril Mukminin) untuk segera menyerahkan diri,” kata Nawawi dalam konferensi pers, baru-baru ini.

Sementara itu terkait dengan dugaan keterlibatan kadernya dalam kasus suap tersebut, Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Ahmad Basarah menyatakan Andreau Misanta adalah anggota partai yang pernah menjadi Caleg DPR RI yang diusung pada Pemilu 2019. Namun, seusai pencalonan yang gagal itu, yang bersangkutan sudah tidak aktif lagi di partai.

“Saya mengetahui Saudara Andreau sudah menjadi staf ahli Menteri Edhy Prabowo yang Waketum Partai Gerindra justru setelah ada kasus OTT KPK ini,” kata Ahmad Basarah, belum lama ini.

“Karena keberadaan Saudara Andreau sebagai staf ahli Menteri KKP adalah keputusan pribadi yang bersangkutan, maka segala bentuk perilaku dan tindak tanduknya sama sekali tidak berkaitan dengan PDI Perjuangan,” terang Basarah.

Menanggapi pernyataan politisi PDIP itu, pemerhati politik Rocky Gerung menilai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ingin terlihat bersih atau ingin cuci tangan atas kadernya yang terlibat kasus suap perizinan ekspor benih lobster dan menjerat Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Rocky membuat penilaian begitu karena PDIP menyatakan bahwa Andreau Misanta Pribadi tak aktif lagi dalam kegiatan keorganisasian PDIP. Dia menilai itu aneh karena jika secara individual Andreau menjadi staf khusus, itu sangat tidak mungkin. Posisi staf khusus biasanya diisi oleh sosok yang dekat dengan Menteri dan tidak mungkin tak ada unsur politik di dalamnya.

“Begitu nama kader PDIP disebut, reaksi pertama PDIP adalah [mengatakan] dia tidak lagi aktif dalam kepartaian, dia secara individual pergi direkrut Kementerian Perikanan. Bagaimana mungkin, apa kapasitasnya dia sehingga direkrut Menteri Edhy,” kata Rocky dalam akun Youtube-nya yang dikutip pada Sabtu, (28/112020).

Jika dilihat dari perjalanan kariernya, Andreau merupakan sosok yang menjadi calon anggota legislatif alias caleg dari PDIP tetapi tidak terpilih. Rocky mengaku heran jika sosok yang gagal dalam pemilu legislatif tapi justru direkrut oleh Edhy Prabowo.

Rocky mencurigai PDIP mengeluarkan pernyataan yang bersifat bohong dengan mengatakan Andreau tak aktif lagi dalam kepartaian. Mestinya PDIP mampu lebih bersikap berani mengakui kadernya dan kesatria dengan bertanggung jawab atas kesalahan kadernya. Sikap itu akan lebih diapresiasi oleh publik.

“Jadi, berbohong itu menjadi semacam kesimpulan utama hari ini untuk menghindar dari tatapan publik. Kan kalau PDIP bilang, ya, kami bertanggung jawab, lebih mudah diterima kalimat itu daripada [menyatakan] ‘Dia memang kader tapi tak lagi aktif’. Tapi kan itu mau cuci tangan, sebetulnya,” ujarnya.

 

Anda mungkin juga berminat