Tanaman Hias Keladi Dari Solo Mendunia

295

Surakarta (Garudanews.id) – Kesabaran benar-benar membawa keberkahan. Ini dibuktikan pecinta dan pemulia Tanaman Hias Keladi dari Solo, Astriyanto. Dia bergulat dengan tanaman Keladi sejak 10 tahun lalu. Dia menyilangkan jenis Keladi Lokal dengan Keladi dari luar, Dan prosesnya membutuhkan waktu yang lama. Kini Astri sudah menghasilkan varietas-varietas baru yang tidak ada duanya di dunia.

Yang lebih hebatnya, Astri mayoritas menjual hasil produksinya ke kolektor di luar negeri. Hampir seluruh kolektor di seluruh dunia. Diantaranya Amerika, Australia, Thailand, China hingga benua Eropa.

Astri menamai nama-nama hasil silangannya dengan nama-nama lokal, seperti Mantili, Ganesha, Belina, Sumini, Sumirah, Sumarni, Shinta dan lain-lain.

Harganya pun juga sangat spektakuler dari harga umbi 500 hingga jutaan rupiah per pohon. Pengiriman ke luar negeri hanya berupa umbi. Tidak ada daunnya. Beda dengan penjualan lokal.

“Kalau ke luar negeri saya hanya menjual umbi, kalau sama daun resiko rusaknya tinggi. Dan standard ukuran umbinya sebesar telunjuk jari,” ujarnya.

Stok tanaman Astri tersebar di berbagai tempat, ada di Solo, Karanganyar, Bogor, Sumatra hingga Kalimantan.

“Tanaman saya kembangkan di berbagai wilayah, ada di Solo, Karanganyar, Bogor, Sumatra hingga Kalimantan. Dan untuk penjualan semua saya yang atur. Karena saya tidak mau tanaman jenis baru hasil produksi saya ini menyebar bebas. Agar pasar terjaga dan tidak dikembangkan orang-orang yang hanya berorientasi pada Bisnis,” ungkap Astri di Rumahnya, Perunahan Zada Regency Sukoharjo.

Selama ini Astri sering hunting keladi – keladi spesies lokal dari berbagai daerah. Keladi-keladi itu kemudian di silangkan dengan keladi-keladi jenis baru yang sudah ada di pasaran. Dan hasilnya muncul berbagai jenis baru dari 1 bibitan. Karena satu jenis Keladi di silangkan dengan beberapa jenis Keladi lain.

Astri sangat selektif dalam menjual hibrid barunya. Termasuk penjualan ke luar negeri khususnya Thailand. “Khusus untuk Thailand, saya belum mau jual ke sana, meskipun permintaan banyak. Karena saya khawatir disana dikembangkan secara masif, sehingga akan merusak pasar lokal. Jadi sekarang saya mengutamakan kolektor – kolektor lokal. Karena memang jumlah bibitan baru itu sangat terbatas, bahkan hanya satu-satunya di dunia jadi sangat eksluksif,” papar pria yang sehari-hari hobby mancing di sungai ini kepada Garudanews.id di Solo, Sabtu, (12/12).

Astri berharap, petani – petani di Indonesia mulai beralih pada bidang pemuliaan dan memproduksi jenis-jenis baru apapun jenis tanamannya . “Kita harus mulai berpikir untuk budidaya atau produksi untuk menghasilkan varian-varian baru. Kita akan menang nanti. Kita tetap perlu pedagang namun dengan kita bisa menciptakan Varietas baru maka kita akan menjadi pioner di bidang tanaman hias baik lokal maupun internasional,” pungkasnya.

Saat ini tanaman hias jenis Keladi sedang booming harganya menyusul pasar Philodendron. Untuk pasar ekspor sedikit terkoreksi karena di Eropa sedang musim dingin, namun tidak mengurangi harga di pasaran.

Para petani dan pengekspor khususnya, yakin , setelah bulan February tahun depan, pasca musim dingin, pasar ekspor akan kembali bergeliat. (Cj)

Anda mungkin juga berminat