KNKT Sebut 70 Persen Kecelakaan Pesawat Disebabkan Human Factor

105

JAKARTA (Garudanews.id) – Kecelakaan pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 tujuan Jakarta -Pontianak, Sabtu (9/1/2021), kembali menambah daftar kecelakaan transportasi di Indonesia. Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan 60-70 persen kecelakaan udara disebabkan akibat human error. Human factor yang dimaksud Soerjanto adalah cockpit crew, yakni pilot dan co-pilot.

“Saya ingat statistiknya saja, jadi kontribusi-kontribusi itu yang cukup gede yah antara 60-70 persen dari human factor dari cockpit-nya,” ujar Soerjanto kepada merdeka.com, Kamis (14/1/2021).

Kesalahan yang dilakukan cockpit crew menurut Soerjanto cukup beragam, dimulai dari pelatihan, sumber daya manusia, ataupun manajemen. Sementara ia menyatakan, perawatan pesawat sepatutnya bukan menjadi kendala utama atas sebuah kecelakaan udara.

“Jadi maintenance untuk saat ini penyebab kecelakaan bukan hal yang menonjol bukan perlu yang ditakutkan,” ujarnya.

Atas data itu Soerjanto mengaku telah memberikan sejumlah rekomendasi kepada pihak terkait untuk mengoptimalkan segala rekomendasi yang diberikan KNKT.

Namun, Soerjanto menegaskan rekomendasi KNKT tidak bersifat pembuktian satu kasus dan ditindaklanjuti ke ranah pidana.

“Banyak juga kita merekomendasi untuk mengubah beberapa regulasi yang disesuaikan kondisi sekarang ini. Jadi prinsip KNKT adalah bukan untuk ke pengadilan, bukan untuk bukti pengadilan, no blame tidak untuk menyalahkan dan non liability tidak untuk ganti rugi,” jelasnya.

Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo mengatakan, kecelakaan pesawat sejatinya tidak hanya disebabkan faktor tunggal. Multi faktor disebut Dudi menjadi pemicu rentetan kecelakaan burung besi di tanah air.

“Untuk diketahui penyebab (kecelakaan) pesawat itu multi faktor, tidak pernah ada yang tunggal ada banyak faktor di antaranya cuaca, perawatan pesawat, pelatihan para awak,” ujar Dudi, Selasa (12/1/2021).

Untuk perawatan pesawat, pelatihan para awak, disebut Dudi faktor tersebut masuk dalam kategori human error.

Ia meluruskan, human error tidak hanya sebatas kesalahan atau kekeliruan pilot dalam menangani kondisi kritis di tengah penerbangan. Perawatan, pemeriksaan kelayakan pesawat, kekuatan finansial, serta keahlian teknisi dan pilot menjadi satu rantai ekosistem dalam dunia penerbangan.

“Ya itu kombinasi, di luar keterampilan sehingga menyebabkan kelalaian tidak terlepas adalah keuangan,” ucapnya.

Seretnya keuangan satu perusahaan maskapai, menurut Dudi sangat berpengaruh dengan kualitas perawatan pesawat yang sangat jumbo. Contohnya, pembelian suku cadang pesawat.

Dudi mengatakan, memasang satu item suku cadang di pesawat tidak bisa sembarang. Bahkan wajib menyertakan sertifikat untuk memastikan onderdil tersebut tepat dan diperuntukkan untuk jenis pesawat yang dimaksud.

“Bedanya pesawat dengan kendaraan di jalan, komponen spare part itu ada sertifikatnya. Jadi tidak bisa ambil suku cadang bekas pesawat yang sedang parkir untuk dipakai pesawat yang akan terbang,” jelasnya.

Dudi mengatakan praktik culas seperti itu pernah terjadi. Sampai akhirnya, Federation Aviation Administration (FAA) menurunkan peringkat keamanan penerbangan Indonesia masuk ke dalam kategori 2. Peringkat tersebut mengacu pada standar keselamatan International Civil Aviation (ICAO).

ICAO sendiri, merupakan badan di bawah Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan jumlah anggota pada tahun 2016 mencapai 191 anggota. Dari jumlah tersebut, sebanyak 36 negara merupakan anggota dewan yang mempunyai hak ekslusif menentukan regulasi penerbangan sipil dunia.

“Saya sulit mengatakan, tapi praktik itu pernah ada di masa lalu makanya kita masuk ke kategori 2,” kata Dudi.

Dudi turut menyoroti kepatuhan dan ketaatan para maskapai dalam penerbangannya. Sebab, ia tidak menampik jika masih ada beberapa maskapai yang nakal dengan tetap terbang mengangkut penumpang meski pengawasan detil belum tuntas.

“Yang seperti itu menyalahi aturan dan ini disebut human error, kesalahan manusia bukan hanya kesalahan pilot, bukan. Human error itu termasuk manajemen dan keuangan.”

Insiden kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 tujuan Jakarta -Pontianak dikonfirmasi langsung oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang mengatakan, pesawat itu hilang kontak terakhir pada pukul 14.40 WIB. Pesawat membawa 56 penumpang dalam penerbangannya.

Dia mengungkapkan, kronologi Sriwijaya Air SJ-182 berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 14.37 WIB. Saat masih terjalin komunikasi, pesawat tersebut diizinkan terbang ke ketinggian 29.000 kaki, sesuai dengan standar instrumen.

“Pukul 14.40 WIB, Jakarta melihat Sriwijaya tidak ke arah O75 derajat melainkan ke barat laut, oleh karenanya ditanya ATC untuk melaporkan arah pesawat. Tidak lama kemudian, dalam hitungan seconds, SJ-182 hilang dari radar,” katanya di Jakarta, Sabtu (9/1/2021).

Kemudian, Budi menambahkan, manajer operasi ATC langsung berkoordinasi dengan Basarnas, bandara tujuan, instansi terkait. Dan kondisi cuaca saat kejadian masih dalam koordinasi dengan BMKG.

“Kondisi cuaca pada saat kejadian sedang dikoordinasikan datanya dengan BMKG. Total penumpang 50 orang, bersama 12 kru yang terdiri dari 43 dewasa, 7 anak-anak, 3 bayi,” terangnya, dikutip dari merdeka.

Mengetahui kabar pesawat hilang kontak, Presiden Joko Widodo memberi arahan untuk memaksimalkan pencarian.

“Tentu sudah dikerahkan kapal basarnas 4 kapal, 3 kapal karet, 3 dari TNI AL KRI. Kapal-kapal tersebut sudah di TKP,” jelasnya.

“Mohon doa restu dari seluruh masyarakat agar proses pencarian dan penyelamatan berjalan dengan lancar. hotline dari sriwijaya untuk informasi penumpang pada 021-806 37817,” tutup Budi.(qq)

Anda mungkin juga berminat