UGM Dikabarkan Cabut Gelar Profesor Kepada Amien

281

JAKARTA (Garudanews.id) – Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dikabarkan mencabut gelar profesor kepada Amien Rais. Pencabutan gelar akademis tersebut, karena yang bersangkutan sudah tidak lagi menjabat di kampus yang dibiayai oleh APBN itu.

Menanggapi rumor tersebut, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (MenristekDikti), Mohamad Nasir mengatakan, pencopotan gelar profesor adalah sebagai sesuatu yang wajar.

Mantan Rektor Universitas Diponegoro ini mengatakan, status profesor hanya berlaku bagi yang masih aktif.

“Masalah pencabutan guru besar profesor Amien Rais oleh UGM itu hak Universitas Gadjah Mada. Kalau yang mengaku dirinya sebagai profesor ia harus aktif mengajar,” kata Nasir di Manggarai Nusa Tenggara Timur (NTT) usai meresmikan Universitas Katolik Santo Paulus Ruteng, Minggu (26/5).

Menurut Nasir, guru besar yang tidak lagi mengajar atau pensiun secara otomatis profesornya dicabut. “Sudah selayaknya mereka yang tidak mengajar profesornya harus dicabut,” tambahnya lagi.

“Kalau Amin Rais ya kalau memang dia sudah tidak mengajar buat apa profesor untuk dia, jangan untuk gagah-gagahan saja. Kalau memang tidak perlu harus dicabut aja,” ujarnya.

Menristekdikti juga menepis anggapan bahwa pencopotan status guru besar dari Amien Rais sebagai bentuk kriminalisasi akademik sebab langkah ini diambil persis saat Amien Rais sedang menghadapi kasus dugaan makar di Mabes Polri.

“Tidak ada hubungan makar dengan pencabutan guru besar, guru besar masalah akademik, makar adalah persoalan individu, ya,” imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Guru Besar UGM, Koentjoro, mengakui memang banyak pertanyaan yang diajukan kepadanya berkaitan dengan tanggung jawab Amien Rais kepada masyarakat sebagai seorang profesor.

“Saya selaku Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada barangkali banyak yang menanyakan, kan beliau (Amien Rais) profesor, lalu bagaimana tanggung jawabnya?” ungkapnya kepada wartawan di kampus UGM, Jumat (24/5).

“Memang di Gadjah Mada guru besar itu memiliki tiga komisi, satu komisi tentang pendidikan, yang kedua komisi tentang nilai-nilai ke-UGM-an, yang ketiga adalah wawasan kebangsaan,” lanjutnya.

Perihal aspek kebangsaan, kata Koentjoro, pihak UGM menjunjung tinggi kebebasan akademik setiap civitas akademikanya. Namun ia menolak berkomentar mengenai Amien, karena yang bersangkutan sudah pensiun dari UGM.

“Beliau sudah pensiun. Guru besar atau profesor itu adalah jabatan akademik, sehingga ketika beliau itu pensiun maka jabatan akademik sebagai guru besar itu pun sebetulnya juga harusnya hilang,” pungkas Koentjoro. (Red)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.