Buwas Dinilai Figur yang Cocok Untuk Menggantikan Amran Sulaiman

210

JAKARTA (Garudanews.id) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) dipastikan memimpin Indonesia untuk lima tahun kedepan. Banyak usulan agar Presiden merombak kabinet dan mengisih dengan tokoh yang siap kerja.

Salah satunya diungkapkan pengamat komunikasi politik Universitaa Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menilai Direktur Utama Bulog, Budi Waseso alias Buwas sangat berpotensi jadi Menteri apertanian (Mentan). Apalagi jika Buwas mampu membuktikan roadmap-nya menghentikan impor produk.

“Misalnya, produksi beras bisa digenjot. sampai tri wulan keempat bisa setop. Kalau disajikan bagus, bisa saja Jokowi mempertimbangkan jabatan itu (Mentan) untuk Buwas,” kata Emrus Sabtu (19/5).

Tak hanya road map jelas, Emrus juga melihat sosok Buwas sangat layak dan pas untuk memperbaiki ekonomi di bidang pertanian. Yang lebih penting lagi, Buwas juga dinilai mampu memberantas mafia pangan.

“Kinerjanya bagus, itu hal yang perlu dipertimbangkan presiden untuk duduk di kementerian itu. Tetapi sajikan dulu strategis dan road map itu lebih bagus dari menteri sekarang. Bisa saja jabatan politis itu dia buat road map bagus. Katakanlah 2 tahun kita setop impor bawang putih, gandum setop impor karena produksi bagus,” katanya.

Mengenai kinerja Mentan yang sekarang, Emrus melihat tidak ada yang istimewa. “Kalau mau perhatikan, bertani paling 3-4 bulan. Jabatan Mentan sampai 5 tahun, masa import terus. Bawang putih, impor sempat mencapai harga 100 ribu perkilogram. Jadi tidak ada salahnya direshuffle,” tuturnya.

Kendati menjagokan Buwas, Emrus tetap menyerahkan kepada Presiden karena untuk mengisih kabinet merupakan hak preogatif Presiden Jokowi.

Terpisah, anggota Komisi IV DPR Fraksi PDIP, Ono Surono mengatakan andai Buwas menjadi Mentan merupakan hak preogatif Jokowi. Ono mengatakan kinerja Mentan Amran Sulaiman sudah cukup baik terkait pasokan jelang lebaran seperti daging dan beras. Namun, yang menjadi kendala adalah bawang putih.

“Bawang putih memang kita cenderung melihat ada gebrakan dalam beberapa bidang selama kurun waktu hampir lima tahun. Tinggal ke depan bagaimana kita lebih fokus peningkatan produksi,” tuturnya.

Ono pun menilai langkah Buwas yang menolak impor. Menurutnya, dengan bawang putih 97 persen impor, berarti produksi lokal memang tidak ada.

“Sehingga bukan hanya sekadar menolak impor tetapi bagaimana mendorong petani kita menanam bawang putih,” katanya.

Dia melanjutkan, pada saat petani sudah menanam, misalnya sudah memenuhi kebutuhan nasional barulah Buwas tepat menolak impor. Sehingga pada saat kebijakan bawang putih itu ditetapkan bagaimana mendorong petani menanam, perusahaan punya tanggung jawab untuk membeli hasil panen dari petani.

Ono pun berharap mentan selanjutnya lebih meningkatkan produksi dan data pangan yang satu. Sehingga, tidak tumpang tindih data. (Red/TLS)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.