Cari Penyebab Mininggalnya Ratusan KPPS, Wantim MUI Sarankan Korban Diotopsi

229

SOLO (Garudanews.id) – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin, mengungkapkan meninggalnya ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang dituding akibat kelelahan dinilainya tidak masuk akal.

Oleh karenanya, Din kembali menyoal faktor yang mendorong sehingga terjadi kelelahan tersebut.

“Saya tidak bisa menerima argumen kelelahan kenapa mereka lelah? pasti ada manajemen penugasan yang keliru dan KPU bisa dituntut mengenai itu,” ujar Din di Solo, Jawa Tengah, Jum’at ( 17/05).

Tak hanya itu, Din juga mendesak agar pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF) terkait meninggalnya ratusan petugas KPPS segera dibentuk.

Selain itu, untuk dilakukannya otopsi oleh pihak yang berwenang untuk mengetahui penyebab meninggalnya petugas KPPS.

“Bagusnya diotopsi, kalau tidak bisa semua ya beberapa lah supaya bisa tau apa yang terjadi, betulkah karena kelelahan,“ kata Dien

Namun, mantan Ketua Umum Muhammadiyah itu menilai pemerintah tidak ada itikad baik karena hingga saat ini yang belum buka suara mengenai tragedi ini, justru meninggalkan hutang jawaban dengan adanya pertanyaan logis para rakyat.

“Pertanyaan saya, mengapa kita tidak mau mengotopsi? mengapa sih pemerintah tidak mau bentuk tim gabungan pencari fakta? ini pertanyaan logis para rakyat, tolong jelaskan,” pungkas Din.

Data Kementerian Kesehatan melalui dinas kesehatan tiap provinsi mencatat petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang sakit sudah mencapai 11.239 orang dan korban meninggal 527 jiwa.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan merilis penyebab kematian ratusan petugas KPPS. Hasilnya, kelelahan menjadi faktor pemicu dari penyakit utama yang lebih kronis, sehingga menyebabkan petugas KPPS meninggal dunia.

“Telah diterima laporan menunjukkan bahwa meninggalnya petugas Pemilu bukan karena kelelahan, melainkan kelelahan menjadi pemicu penyakit yang diidap oleh petugas menjadi semakin parah,” kata Sekretaris Jenderal Kemenkes Oscar Primadi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/5) lalu.

Sebagai analogi, dia menjelaskan, seorang petugas yang meninggal memiliki penyakit jantung. Seharusnya orang tersebut tidak boleh terlalu lelah. Kendati, saat bertugas, ia dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan menguras tenaga dan hal itu berdampak pada jantungnya.

“Kita melihat beberapa provinsi yang sudah kita dapatkan datanya, tidak ada hal yang berhubungan langsung (dengan kelelahan), tapi berkaitan dengan penyakit bawaan yang diderita, kelelahan menjadi trigger,” ujarnya. (Hab)

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.