Dampak Ekonomi Cina, Rupiah Melemah 0,32%

39

JAKARTA (Garudanews.id) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan 0,32%, pada perdagangan pasar spot hari ini.

Berdasarkan rilis data ekonomi terbaru di China, kondisi tersebut malah semakin membebani rupiah.

Pada Senin (14/1), US$ 1 setara dengan Rp 14.085. Rupiah melemah 0,32% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Mata uang utama Asia lainnya memang mayoritas melemah. Namun rupiah menjadi salah satu yang terlemah di Benua Kuning.

Depresiasi 0,32% membuat rupiah jadi mata uang terlemah kedua di Asia. Rupiah hanya lebih baik dibandingkan won Korea Selatan.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Asia pada pukul 11:18 WIB:

Mata Uang Kurs Terakhir Perubahan (%)
USD/CNY 6.75 (0.08)
USD/HKD 7.84 0.04
USD/IDR 14,085.00 0.32
USD/INR 70.55 0.25
USD/JPY 108.12 (0.39)
USD/KRW 1,112.30 0.45
USD/MYR 4.09 0.07
USD/PHP 52.20 0.16
USD/SGD 1.35 0.03
USD/THB 31.96 0.22
USD/TWD 30.86 0.21

Beban rupiah (dan mata uang Asia lainnya) bertambah berat selepas rilis data ekonomi di China. Biro Statistik Nasional Negeri Tirai Bambu mencatat ekspor pada Desember 2018 terkontraksi alias minus 4,4% secara tahunan (year-on-year/YoY). Jauh memburuk dibandingkan bulan sebelumnya yang masih tumbuh 5,4%.

Impor juga mengalami kontraksi yang lebih dalam yaitu minus 7,6%. Jauh dibandingkan pencapaian bulan sebelumnya yaitu tumbuh 3%.

CNBC mengabarkan, bahwa data tersebut semakin memberi konfirmasi bahwa perekonomian China sedang melambat. Sebelumnya, data-data yang dirilis juga kurang menggembirakan.

Misalnya laju inflasi pada Desember 2018 tercatat 1,9% YoY. Ini merupakan angka terendah selama 6 bulan terakhir. Perlambatan inflasi menunjukkan permintaan konsumen sedang lesu.

Bank Dunia memperkirakan ekonomi China pada 2018 tumbuh 6,6%. Untuk tahun ini, pertumbuhan ekonomi China diproyeksi melambat menjadi 6,2%.

China adalah perekonomian terbesar kedua dunia dan nomor 1 di Asia. Perlambatan ekonomi China akan mempengaruhi negara-negara tetangganya, termasuk Indonesia.

Sebab, China adalah mitra dagang utama Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor non-migas Indonesia ke China selama Januari-November 2018 sebesar US$ 22,7 miliar. Jumlah ini adalah 15,12% dari total ekspor non-migas dan menduduki peringkat teratas.

Jika permintaan dari China berkurang karena perlambatan ekonomi, maka ekspor Indonesia akan ikut terancam. Ekspor akan sulit untuk bangkit sehingga membebani pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Risiko perlambatan ekonomi tersebut menjadi beban tambahan buat rupiah. Ditambah berbagai sentimen lainnya, tidak heran rupiah terus melemah dan jadi mata uang terlemah kedua di Asia.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.