DPP Gemura Kutuk Aksi Teror Bom Tiga Gereja di Surabaya

0
426
Sayap partai Berkarya Generasi Muda Berkarya (Gemura)

JAKARTA (Garudanews.id) – Dewan Pimpinan Pusat Generasi Muda Berkarya (Gemura) mengutuk keras aksi teror yang terjadi di di tiga Gereja di Surabaya pada Minggu (13/5) pagi.

Diketahui, ledakan bom pertama kali terjadi di Gereja Santa Maria di Jalan Ngagel, sekitar pukul 06.30 WIB. Ledakan bom kedua terjadi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, sekitar pukul 07.15 WIB. Terakhir, aksi teror bom terjadi di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna pada pukul 07.53 WIB.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gemura Raden Andreas Nandiwardhana mengatakan, pihaknya mengutuk aksi teror yang telah merenggut korban jiwa dan belasan orang luka-luka.

“Kami selaku Ketua Umum Gemura sangat mengutuk keras kepada para pelaku teror BOM Surabaya.   Kepada  para korban yang meninggal semoga almarhum diterima disisinya,  dan untuk para korban yang selamat atau luka-luka semoga lekas diberi kesembuhan, dan untuk para keluarga korban semoga diberi ketabahan,” ujar Andeas menyikapi aksi teror yang terjadi di Surabaya, Minggu, (13/5).

Untuk itu, pihaknya mendesak kepada kepolisian agar segera mengusut tuntas siapa dalang dibalik peristiwa yang dinilai sangat sadis itu.

“Banyangkan saja, anak-anak yang tidak berdosa mengalami luka yang cukup serius akibat ledakan bom itu. Dan tentunya, tidak satupun agama di dunia memperbolehkan kekerasan,” tandas ketua umum Gemura, yang merupakan sayap Partai Berkarya tersebut

Sementara itu, Pengamat Teroris Indonesia Dr Ahmad Zaenul Hamid mengatakan bahwa sasaran para teroris adalah bagaimana menciptakan rasa ketakutan di tengah masyarakat. Meski demikian, kata dia, pelaku teror itu ada beberapa faktor diantaranya terkait isu keagamaan dan isu politik.

Menurutnya, dalam aksi teror di depan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, persoalan tempat hanya sebatas simbolik.

“Jadi terorisme itu ada dua macam. Ada terorisme yang berlatarbelakang keagamaan dan ada juga terorisme politik. keduanya mengambil tempat atau simbol, dengan simbol itu si pelaku itu akan menciptakan teror,” ujar Zaenul seperti dalam keterangannya saat diwawancarai televisi swasta.

Menurut dia, selama ini teroris yang ada di Indonesia yang berbasis agama yang digerakan oleh kelompok Islam militan teroris. Kemudian tempat-tempat yang dijadikan sasaran teroris itu adalah simbol keagamaan, salah satunya adalah Gereja.

Menurutnya, target sesungguhnya adalah bagaimana menciptakan ketakutan ditengah masyarakat.

“Karena teror yang terjadi di surabaya itu peristiwanya tidak lama setelah kasus penyerangan di Mako Brimob. Jadi sebetulnya yang menjadi sasaran teror itu adalah pihak kepolisian,” tandasnya. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here