Harga Pupuk Melambung, Petani di Sukabumi Mulai Menjerit

0
107
Pupuk Urea. (Ilustrasi)

SUKABUMI (Garudanews.id) – Para petani di wilayah Kabupaten Sukabumi menjerit, pasalnya terpantau beberapa petani yang mengeluhkan harga pupuk yang melambung tinggi termasuk harga gabah.

Dan tanaman padi selama ini menjadi harapan besar petani sebagai sumber pendapatan warga Kabupaten Sukabumi. Namun saat ini pendapatannya menurun karena tingginya biaya produksi dengan melonjaknya harga pupuk jenis Phonska.

”Ya terus terang aja, kami masih bergantung dengan sawah, karena terkendala dengan harga pupuk yang terus merangkak naik. Harga pupuk di musim sebelumnya kisaran Rp 115 ribu perkarung dengan berat 50 kg, namun saat ini harganya naik menjadi Rp 130 ribu perkarung,” ungkap petani warga Desa Cibolang Kecamatan Gunungguruh, Pepen Supendi (44) kepada garudanews.id, Kamis (08/11).

Menurut Pepen, sejak beberapa tahun terakhir biaya penggarapan sawah sampai hasil panen jauh meningkat. Jika satu hektar sawah biasanya hanya dibutuhkan Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta.

“Tapi sekarang uang yang dikeluarkan mencapai Rp 5 juta ditambah bila kemarau yang mengakibatkan saluran air tidak normal,” keluhnya.

Terpisah, salah satu petani warga Desa Tanjungsari Kecamatan Jampangtengah, Mumun (47) mengatakan, selain mengeluh harga pupuk padi, juga mempersoalkan menurunnya harga gabah yang selalu turun setiap musim panen raya.

”Saat ini harga gabah 1 kwintal hanya dijual Rp 420 ribu dan dihari-hari biasa 1 kwintal dijual Rp 480 ribu sampai Rp 500 ribu,” katanya.

Kata Mumun, mahalnya harga pupuk membuat khawatir para petani karena akan menurunkan produksi panennya. Sehingga petani mengurangi pembelian pupuk.

”Ya selain harga pupuk mahal juga persediaan pupuk jenis Urea, SP-36, Za dan Phonska makin langka di kios kios resmi,” tuturnya.

Sementara Kabid Sarana Prasarana Pertanian pada Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Eli Sulatri mengatakan, dengan kondisi petani yang merasakan rendahnya harga gabah di pasaran yang diterima tengkulak. Padahal petani bisa koordinasi dengan Asosiasi petani Gapoktan untuk mencari solusi.

“Di Dinas Ketahanan Pangan kan ada Gapoktan untuk membeli beras dari para petani untuk dikemas menjadi beras ‘Sukabumiku’. Jadi petani tidak usah memanfaatkan tengkulak lagi tapi manfaatkan gapoktan di wilayah,” katanya.
(ded)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here