Hasil Survei LSI, Elektabilitas Golkar Disalip Gerindra

0
238
Denny JA

JAKARTA (Garudanews.id) – Kasus korupsi yang melibatkan petinggi Partai Golkar ternyata sangat berpengaruh pada tingkat elektabilitas suara partai.

Berdasarkan hasil survei LSI Denny JA, Partai Golkar hanya menempati urutan ketiga. Bahkan, Partai Gerindra yang semula tidak masuk tiga besar, tapi untuk pemilu 2019 dapat menyalip suara partai yang saat ini digawangi Airlangga Hartarto tersebut.

Lingkaran Survei Indonesia Denny JA memprediksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bakal memperoleh banyak suara pada Pemilu 2019 mendatang. Sebab berdasarkan survei terbaru, partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri mendapat suara paling banyak dibandingkan dengan partai lain yaitu, 24,8 persen.

Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan, PDIP salah satu partai yang mengusung capres-cawapres sehingga mampu meningkatnya elektabilitas parpol. “Dalam koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf, PDIP adalah partai paling kuat asosiasinya,” katanya di kantor LSI baru-baru ini.

Setelah PDIP, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) diprediksi meraup suara tinggi kedua pada Pemilu 2019. Karena berdasarkan survei LSI Denny JA, Gerindra memperoleh suara 13,1 persen. Kedua setelah PDIP.

Survei itu dilakukan sejak tanggal 12-19 Agustus 2018 dengan menggunakan metode multistage random sampling yang melibatkan 1.200 responden dan margin of error 2,9 persen.

Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby menilai suara yang didapat oleh Gerindra lantaran partai itu mengusung capres-cawapres pada Pilpres mendatang. Menurutnya, partai politik mengusung capres sendiri justru lebih mampu meningkatnya elektabilitas. “Dalam koalisi Prabowo-Sandi Gerindra adalah partai yang kuat asosiasinya,” katanya.

Selanjutnya,  berdasarkan survei LSI Denny JA, suara yang diperoleh Partai Golkar hanya 11,3 persen. Suara Golkar tersalip oleh Gerindra yang notabenenya partai muda dibanding dengan Golkar.

Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan, penyebab dari partai Golkar meraih suara di bawah Gerindra karena internal Golkar terlibat korupsi. Selain itu, Golkar tidak mengalami coattails effect saat pencalonan presiden. Meski begitu Golkar diprediksi masih mampu meraup suara pada Pemilu 2019 mendatang.

“Warisan kasus mantan Ketua Umum Setya Novanto. Lalu ada kasus baru yang melibatkan internal Golkar juga (dugaan korupsi oleh Idrus Marham) sehingga menyebabkan elektabilitas Golkar di bawah 15 persen,” katanya. (Mhd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here