IPW: Polri dan intelijen perlu bekerja super keras untuk menghentikan aksi teror

0
203
Ilustrasi

JAKARTA (Garudanews.id) – Kasus serangan bom beruntun di Surabaya pasca kekacauan di Rutan Brimob Jakarta menunjukkan Polda Jawa Timur kedodoran dalam manajemen sistem deteksi dan antisipasi dininya, sehingga jajaran kepolisian dan intelijen seakan tidak berdaya dan tidak solid.

Indonesia Police Watch (IPW) mencemaskan situasi ini, terutama jika jajaran kepolisian tidak bisa segera mengendalikan situasi. Masyarakat akan semakin resah dan merasa tidak aman, sementara bulan suci Ramadhan sudah di depan mata. Bagaimana pun masyarakat butuh situasi aman saat melaksanakan ibadah Ramadhan.

“Polri dan kalangan intelijen perlu bekerja super keras untuk menghentikan aksi teror ini agar tidak ada celah bagi teroris untuk beraksi. Terutama menjelang sidang tuntutan terhadap tokoh teroris Aman Abdurrahman yang rencananya akan berlangsung Jumat ini di PN Jaksel,” ujar Ketua Presidium IPW, Neta S Pane dlam keterangan tertulisnya yang diterima garudanews.id, Senin, (1/5).

Pane mengungkapkan, Aman adalah otak bom Thamrin. Ucapan dan perintah tokoh JAD ini sangat didengar dan diikuti para pengikutnya, termasuk melakukan aksi bom bunuh diri. Situasi ini perlu diantisipasi kepolisian. Pagar betis harus dilakukan agar pengikut Aman tidak punya celah untuk menebar teror balas dendam.

“Melihat teror yang beruntun di Surabaya jajaran kepolisian harus lebih cermat lagi. Sebab kasus Surabaya memunculkan empat fenomena dalam dunia terorisme Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan bahwa inilah pertama kali satu keluarga terlibat dalam melakukan serangan teror bom bunuh diri. Dan yang kedua, keterlibatan perempuan dalam aksi bom bunuh diri makin masif. Ketiga, para teroris makin nekat mendatangi polisi, meskipun di markasnya, untuk melakukan serangan.

Selanjutnya, keempat, kasus bom Surabaya menunjukkan bahwa pelaku teror bom bunuh diri bukan lagi hanya dari kalangan ekonomi lemah tapi juga sudah melibatkan kalangan ekonomi mapan.

Selain itu kasus aksi teroris yang beruntun ini menunjukkan bahwa program deradikalisasi yang digalang pemerintah gagal total. Jaringan baru teroris bermunculan dan jaringan yang tertidur bangun lagi.

“Sepertinya pemerintah perlu mengevaluasi banyak hal agar situasi keamanan di negeri ini kembali kondusif, terutama saat Ramadhan, idul Fitri dan pelaksanaan pilkada serentak,” saran Neta. (rel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here