Jelang Bulan Puasa, PSK Puncak Sudah Mulai Pulang Kampung

0
297
Kawasan Puncak Bogor Jawa Barat.

BOGOR (Garudanews.id) – Menjamurnya PSK Kawasan puncak bukan hal yang tabu di kalangan masyarakat dan hal ini selalu menjadi pro dan kontra, dari informasi yang di himpun, para PSK tersebut berasal dari berbagai wilayah yang ada di Indonesia seperti Cianjur, Sukabumi, Bandung, Jakarta dan daerah lainnya.

Para PSK ini rata-rata ngekos atau ngontrak di rumah-rumah penduduk setempat, serta menjajakan diri ke para turis asal timur tengah yang sedang berlibur yang di kenal dengan istilah “Dower” dengan memakai mobil atau motor di anter oleh para mucikarinya.

Menjelang bulan puasa yang tinggal menghitung beberapa hari lagi, para PSK di kawasan tersebut sudah ada beberapa yang mulai pulang kampung ke daerah asalnya masing-masing.

“Iya mas saya mo pulang kampung aja teman-teman yang lainpun sudah banyak yang pulang duluan abis onta (istilah pria.asal arab) uda mulai sepi, ditambah takut kalau menjelang bulan puasa suka banyak razia, bertahan disini juga mo ngapain kalau gak ada kerjaan mah mendingan di kampung aja,” ujar salah satu PSK di kawasn Puncak yang tidak mau disebutkan namanya Senin (7/05) malam.

Dia sudah hampir tiga tahun bekerja menjalani pekerjaan tersebut karena memang himpitan ekonomi,.

“Saya sekolah aja lulusan SD punya anak satu tinggal di kampung sama Ibu saya, pengen namah kerja bener tapi binggung mo kerja apa karena gak punya ke ahlian,” tuturnya.

Dia pun mengaku setiap menjelang bulan puasa selalu menabung menyisihkan penghasilannya,.

“Saya Harus menabung jaga-jaga buat bulan puasa dan lebaran, Alhamdulilah ada lah untuk bekal mah nanti di kampung, karena selama bulan puasa kan gak kerja dan kebutahan sampai lebaran nanti,” terang wanita asal Sukabumi ini.

Saat di tanya kapan kembali lagi bekerja ke puncak dia mengatakan belum memastikannya kapan akan aktif bekerja.

“Gak tentu juga biasanya kadang seminggu kadang juga dua minggu setelah lebaran, ya nunggu info aja dari teman-teman yang lain kapan rame turis arab di sini,” jelasnya.

Berbeda dengan mawar (nama samaran-red) karena kebutuhan ekonomi dia masih bertahan di puncak untuk mengais rejeki.

“Iya mas ke paksa karena kebutuhan dan lum ada bekal untuk bulan puasa saya masih bertahan disini paling rencana pulang tanggal 12-13 nanti,” katanya.

 

Menyikai fenomena pekerja seks komersial (PSK) di kawasan puncak itu, tokoh pemuda Cisarua, Falahuddin mengaku prihatin. Karena keberadaan PSK di puncak bukan hanya menjadi masalah sosial bagi kalangan masyarakat, dia pun mengkhawatirkan masa depan generasi muda pada lingkungan di tempat PSK itu beroperasi.

“Karena tempat PSK beroperasi membaur dengan lingkungan warga. Ini tentu bakal mengancam generasi bangsa. Bayangkan saja, setiap hari anak-anak dibawah umur sudah di pertontonkan dengan pemandangan yang tidak pantas di konsumsi mata anak di bawah umur,” katanya, Selasa, (8/5)

Ia pun meminta kepada aparat penegak hukum maupun tokoh agama bekerjasama untuk memberantas praktik maksiat yang ada di Puncak. Bila perlu, kata dia, Pemerintah bisa merelokasi di tempat yang lebih aman dari lingkungan anak-anak.

“Karena PSK di puncak sudah sangat meresahkan bagi kami. Perlu adanya kekompakan semua pihak dalam menghadapi masalah sosial ini,” pungkasnya. (Apih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here