Jelang Pergantian Tahun, Rupiah Menguat

32

JAKARTA (Garudanews.i) – Rupiah benar-benar eksepsional di perdagangan hari terakhir 2018. Tidak hanya dolar AS, rupiah pun menyapu bersih Asia dan Eropa.

Pada Senin (31/12) pukul 11:08 WIB, US$ 1 di pasar spot diperdagangkan Rp 14.455. Rupiah menguat 0,69% dibandingkan posisi penutupan pasar akhir pekan lalu.

Mata uang utama Asia juga sebagian besar mampu menguat terhadap dolar AS. Namun rupiah menjadi spesial, karena penguatan 0,69% membawa mata uang Tanah Air menduduki puncak klasemen Asia.

Berikut perkembangan nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama Benua Kuning pada pukul 11:10 WIB:

Dolar AS VS Mata Uang Asia

 

Ternyata tidak hanya dolar AS yang jadi korban keperkasaan rupiah. Melawan mata uang utama Asia, rupiah pun berjaya. Tidak ada satu pun mata uang utama Asia yang menguat di hadapan rupiah, sapu bersih 100%.

Berikut perkembangan kurs mata uang Asia terhadap rupiah pada pukul 11:13 WIB:

P8

Kabar kemenangan rupiah menggema hingga ke Eropa. Pada pukul 11:14 WIB, rupiah menguat 0,06% terhadap euro. Sedangkan di hadapan poundsterling, rupiah terapresiasi hingga 0,77%. Kemudian melawan franc Swiss (yang berstatus sebagai safe haven), rupiah menguat 0,76%.

Jelang akhir 2018, investor pun mulai bersiap menghadapi 2019. Tahun depan sepertinya menjadi momentum yang indah bagi rupiah, tidak seperti 2018 yang meninggalkan luka dalam.

Bank investasi ternama asal AS, Morgan Stanley, menaikkan status pasar saham Indonesia dari underweight menjadi overweight untuk 2019. Artinya, pasar saham Indonesia dipandang begitu molek sehingga sangat layak untuk dimasuki.

Selain itu, sentimen positif bagi rupiah pada 2019 adalah harga minyak. Kemungkinan harga si emas hitam masih akan tertekan pada 2019.

Sejak 3 Oktober hingga 28 Desember, harga minyak jenis brent melorot 39,51%. Sepertinya tren penurunan harga minyak akan bertahan cukup lama. Sebab, investor masih saja mencemaskan ancaman kelebihan pasokan (oversupply).

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan produksi minyak pada 2019 adalah 101,84 juta barel/hari. Melampaui proyeksi permintaan yaitu 101,61 juta barel/hari. Akibatnya, harga minyak pun bergerak turun, dan mungkin bertahan dalam waktu yang tidak sebentar.

Bagi rupiah, koreksi harga minyak akan sangat menguntungkan. Pasalnya, tekanan terhadap rupiah kerap kali hadir dari tingginya impor minyak.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca minyak mentah Indonesia selama Januari-November 2018 defisit US$ 3,89 miliar dan neraca hasil minyak minus US$ 14,75 miliar. Ini menyebabkan neraca perdagangan tekor US$ 7,51 miliar.

Tingginya defisit neraca perdagangan dikhawatirkan menular ke transaksi berjalan (current account). Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa defisit transaksi berjalan pada kuartal IV-2018 masih akan berada di kisaran 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sumber cnbc mengabarkan, jika harga minyak lebih murah, maka beban impor minyak ini berpotensi berkurang. Oleh karena itu, rupiah akan punya beking devisa yang lebih memadai sehingga potensi penguatan menjadi lebih besar.

Investor kemudian memberi apresiasi terhadap ruang penguatan rupiah dengan mulai mengoleksi mata uang ini. Hasilnya jelas, rupiah berjaya dari AS, Asia, hingga Eropa.  (Red)

 

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.