Kasus Anggaran Diklat, Kejaksaan Diminta Periksa Wali Kota Bekasi

0
361
Direktur Centre For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi.

KOTA BEKASI (GARUDANEWS) – Direktur Centre For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, mendesak pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Bekasi untuk segera mengembangkan kasus korupsi anggaran Diklat Pra Jabatan yang dilaksanakan pada tahun 2009 lalu.

Dalam kasus tersebut, Kejari Bekasi sudah menetapkan Staf Ahli Wali Kota Bekasi Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Roro Yoewati, sebagai tersangka.

Uchok menyebut, Roro harus menjadi pintu masuk bagi Kejaksaan untuk mengembangkan kasus tersebut, untuk menjerat oknum-oknum pejabat lain yang ikut terlibat.

“Pasti Roro tidak sendiri. Ada backing yang ikut terlibat. Kejaksaan harus menekan dia (Roro) untuk bernyanyi semerdu-merdunya. Jadikan dia (Roro) Justice Collaborator. Untuk membuka siapa saja yang terlibat,” tegas Uchok saat dihubungi garudanews.id.

Uchok juga meminta Kejaksaan untuk memanggil dan memeriksa Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, supaya semakin jelas modus korupsi dari kasus tersebut. “Harus diselidiki juga indikasi TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) dalam kasus ini. PPATK harus bergerak,” tegasnya.

Kejari Bekasi dikatakan Uchok, harus menjelaskan kepada masyarakat kenapa kasus ini sempat mandek sampai setahun. “Saya melihat kasus ini setengah politis. Jangan Kejaksaan beralasan karena baru menemukan 2 alat bukti baru menetapkan tersangkanya,” bebernya.

Seperti diketahui, Staf Ahli Wali Kota Bekasi Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Roro Yoewati, resmi ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Bekasi, Jumat (18/3) siang.

Mantan Camat Pondok Melati tersebut ditahan atas kasus korupsi anggaran Diklat Pra Jabatan yang dilaksanakan pada tahun 2009. Pada saat itu Roro menjabat sebagai Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Bekasi.

Roro Yoewati sebagai pimpinan proyek/pejabat pembuat komitmen (PPK) di BKD melakukan pembayaran SP2D Pemkot Bekasi ke Wingdik TNI AU Bandung kepada DSA. Namun, dana yang sudah ditransfer ke Wingdik TNI AU ditransfer kembali ke rekening Roro pada 11 Agustus 2009 senilai Rp2 miliar lebih. Dalam transaksi di rekeningnya ada pengambilan uang yang disamarkan pada 18 Agustus 2009 sebesar Rp700 juta untuk outbond, sertifikasi, dan honor Widyaiswara pada 28 Agustus 2009 , juga Rp300 juta untuk honorarium.

Dalam kasus ini, Roro pernah diperiksa Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Namun dia mengatakan, itu hanya sebatas klarifikasi dari uang yang masuk ke rekeningnya dan memberikan penjelasan penggunaan anggaran pada kegiatan tersebut. (goo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here