Perindo dan PBB Dinilai Salah Langkah

248

JAKARTA (Garudanews.id) – Gelaran pesta demokrasi pada 17 April lalu menjadi pukulan bagi partai yang tidak lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold). Ada dua partai yang dinilai salah langkah dalam menentukan koalisi, padahal memiliki potensi untuk lolos ke Senayan. Di antaranya Perindo dan Partai Bulan Bintang (PBB).

“Padahal, dua partai tersebut memiliki potensi untuk masuk parliamentary threshold. Akan tetapi karena salah dalam menentukan koalisinya kedua partai tersebut sulit mendapat simpatik dari publik,” ujar pengamat administrasi politik Dr Bambang Istianto kepada garudanews.id, Minggu (21/4).

Bambang menjelaskan, potensi Perindo untuk masuk ke Senayan padahal dapat di raih dengan mudah. Selain masyarakat telah mengenal Perindo lewat media group MNC, Partai besutan Hari Tanoe dinilai cukup bagus dalam mensosialisasikan ekonomi kerakyatan. Hal itu terbukti dengan banyaknya UKM binaan Perindo yang muncul di berbagai daerah.

“Tapi dalam Pileg 2019 ini Perindo sulit mendapatkan angka empat persen. Persoalannya adalah, banyak pemilih tradisional kita masih melihat sosok atau figur dalam partai itu sendiri. Kemudian, bergabungnya Perindo dalam koalisi Jokowi-Amin juga sebagai salah satu faktor Perindo sulit mendapatkan pemilih dari kalangan Islam modern, Sementara pemilih dari basis Islam tradisional sudah dikuasai oleh partai PKB,” ujar Bambang.

Bambang menambahkan, bergabungnya Perindo dengan partai penguasa ternyata ternyata tidak berdampak positif terhadap partai baru. Jokowi efek kata dia, hanya berlaku pada PDIP saja.

Selanjutnya, Bambang menyayangkan sikap PBB yang dinilai terlalu ambisius untuk meraih suara di parlemen tanpa mempertimbangkan basis massa. PBB di bawah kepemimpinan Yusril Ihzamahendra, saat ini justru banyak kemunduran.

Bambang menilai, bergabungnya PBB dalam koalisi Jokowi-Ma’ruf yang diharapkan membawa efek positif. Lagi-lagi Jokowi efek ternyta tidak berpengaruh pada PBB dalam meraih kursi di Senayan.

“Banyak kader kecewa akibat kebijakan Yusril yang membawa partainya masuk dalam kolisi Jokowi-Ma’ruf. Padahal kalau PBB konsisten, massa 212 dan basis massa Islam modern dapat diambil. Selain itu ketokohan Yusril cukup bagus. Sehingga untuk meraih empat persen sebenarnya hal yang mudah,” ujar Bambang.

Tapi, karena ego sektoral yang di bawa dalam organisasi partai, kata Bambang, membuat PBB sulit masuk dalam parliamentary threshold. (Mam)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.