Kemarau Panjang, Jutaan Warga Somalia Terancam Kelaparan

184

NAIROBI (Garudanews.id) – Kemarau yang berkepanjangan di Negara Somalia, Afrika Timur, menyebabkan hampir dua juta warga di negara tersebut terancam kelaparan.

Sebuah lembaga kemanusiaan mencatat bahwa kondisi negara yang dilanda perang saudara itu  mendorong masyarakatnya ke jurang kelaparan berkepanjangan.

Sementara, Depa yang disebut hujan panjang yang biasanya menyapu Afrika Timura ntara bulan Maret dan Mei telah menyebabkan kegagalan panen yang meluas dan menambah tekanan besar pada komunitas-komunitas yang bergantung pada ternak di wilayah yang lebih luas.

Somalia mengalami musim hujan paling kering ketiga sejak sejak 1981.

PBB memperkirakan bahwa 1,7 juta orang akan kelaparan, dengan angka itu diperkirakan akan tumbuh setengah juta lagi pada bulan Juli.

Pekan lalu, PBB mengatakan 44.000 warga Somalia telah meninggalkan rumah mereka di daerah pedesaan untuk pusat kota tahun ini – bergabung dengan sekitar 2,6 juta orang yang terlantar secara internal di seluruh negeri.

Hampir satu juta anak akan membutuhkan perawatan untuk kekurangan gizi pada tahun 2019.

“Kerusakan telah terjadi jauh lebih awal daripada yang terlihat selama beberapa dekade terakhir dan sebelum masyarakat yang terkena dampak dapat pulih dari kekeringan terakhir,” kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, dilansir AFP, Selasa (7/5).

Tetapi krisis kelaparan bisa meluas ke luar Somalia, dengan seluruh wilayah Tanduk Afrika terancam kekeringan dan cuaca ekstrem yang diperburuk oleh perubahan iklim.

Hampir 80 persen populasi di Tanduk bergantung pada pertanian untuk mencari nafkah, kata Organisasi Pangan dan Pertanian PBB.

Jaringan Sistem Peringatan Dini Kelaparan mengatakan pada bulan April bahwa jika hujan tidak muncul pada bulan Mei “musim akan gagal dan dampaknya pada hasil ketahanan pangan akan lebih parah dari yang diperkirakan saat ini.”

Jaringan yang didanai AS memperingatkan lebih dari 42 juta orang di Ethiopia, Sudan Selatan, Somalia, Sudan, Kenya, Uganda dan Yaman yang berdekatan saat ini menghadapi tingkat krisis kerawanan pangan.

Di Kenya, yang dianggap sebagai ekonomi paling dinamis di kawasan itu, Bank Dunia pada April mengutip dampak kekeringan ketika memangkas perkiraan pertumbuhannya untuk negara itu pada 2019. (Red)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.