Rupiah Kian Melemah, Krisis Moneter Jilid III ‘Ancam’ Indonesia

0
169
Pengamat ekonomi Agus Wahid. (Foto: garudanews.id)

JAKARTA (Garudanews.id) – Nilai tukar rupiah kian tergerus. Sempat mencapai Rp 14.200/dolar AS. Akankah kian melemah? Sangat tergantung pada kerangka solusi darurat yang diambil Pemerintah dalam menginstuksikan pihak otoritas moneter dan terobosan kebijakan strategis lainnya yang inline langsung dengan ekonomi. Demikian diungkapkan pengamat ekonomi Agus Wahid dalam keterangan tertulisnya yang diterima garudanews.id, Kamis, (10/5).

Pihaknya juga sangat mengkhawatirkan persoalan yang lebih krusial, bagaimana dampak dari depresiasi nilai tukar rupiah yang semakin dalam itu.

“Kita flash beck jelang runtuhnya Orde lama. Kondisi moneter tahun 1993 –1965, terjadi hiperinflasi mencapai sekitar 600%. Jika kita telusuri, angka inflasi yang demikian hiperbolik akibat dari ambisi pembangunan proyek mercusuarnya, di antaranya GANEFO (The Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Indonesia pada 1963 sebagai counter perhelatan olimpiade dunia. Sebuah ambisi yang bersifat “menantang” kepada dunia di bawah bendera negara-negara Barat kapitalis,” ungkap Agus.

Kala itu, ujar Agus, pemimpin Orde Lama sengaja tampil sebagai kekuatan Blok Sosialis dan karenanya GANEFO sengaja mengakomodir atlet-atlet dari negara-negara sosialis.

Boleh jadi, pembangunan proyek mercusuar itu sungguh membanggakan. Namun, tidaklah harus “besar pasak daripada tiang”. Ambisi itu secara empirik  telah menggerakkan kebijakan pencetakan uang tanpa kendali.

“Maka, inflasi yang sangat hiperbolik tak bisa terelakkan. Dengan implikasi kenaikan harga barang yang menaik tajam, sementara rakyat masih jauh di bawah kemampuan daya beli, akibatnya terasa demikian berat tekanan ekonominya,” ungkap Agus.

Yang memprihatinkan, untuk menekan daya laju inflasi yang sangat tinggi itu dihadang dengan kebijakan sanering angka Rp 1.000 menjadi Rp 1.

Kebijakan ini jelas bukanlah redenominasi, yang sesungguhnya bisa dinilai mempertahankan nilai rupiah. Tapi, dengan kebijakan sanering itu, rakyat kian habis daya belinya.

“Maka, dapat kita pahami ketika rakyat bersama elitis sangat marah dan melakukan perlawanan keras. Slogan turunkan harga dan turunkan Soekarno, di samping bubarkan PKI (tiga tuntutan rakyat atau Tritura) menggema di seantero Nusantara,” paparnya.

Sejarah mencatat, jatuhlah rezim Soekarno yang pernah menyatakan diri sebagai Presiden Indonesia seumur hidup. Inilah panorama krisis moneter (krismon) pertama, yang menjadi pendulum krisis ekonomi dan politik yang jatuhkan mendiang Soekarno.

Sebuah renungan, apakah Pemerintah saat ini masih tetap menunjukkan ambisi untuk membangun mega proyek mercusuarnya, terutama di sektor infrastruktur? Jika memang “pasak” secara finansial domestiknya, tentu perlu kita apresiasi dan itulah reputasinya.

Tapi, lanjut Agus, fakta bicara lain. Andalan utamanya adalah utang yang sudah melampaui batas (mencapai Rp 4.915 triyun) dan lagi bersifat bilateral (hanya kepada China).

“Dinamika terakhir, per April, China menyetop mengucurkan pinjaman yang disepakati. Mengapa? Bisa jadi, karena nilai pinjamannya dinilai sudah terlalu besar,  per Mei tahun lalu mencapai AS$ 15,491 miliar atau dengan kurs Rp 13.500 sekitar Rp 216 Triliun. Juga, bisa jadi karena prediksi kalkulasi politik yang kian menguat resistensinya terhadap pemerintahan saat ini,” pungkas Agus. (Red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here