Pelaku Bom Tiga Gereja di Surabaya Diduga Satu Keluarga

0
301
Foto: Ist

JAKARTA (Garudanews.id) – Tragedi bom bunuh diri di Surabaya yang mengakibatkan belasan orang meninggal dunia dan puluhan menderita luka-luka mejadi perhatian serius bagi sejumlah kalangan. Ucapan bela sungkawa pun datang dari penjuru tanah air.

Karena, peristiwa sadis ini bukan hanya menyisakan kesedihan dan duka bagi keluarga yang ditinggalkan, akan tetapi seluruh rakyat Indonesia juga merasa terpukul atas insiden ledakan bom disejumlah Gereja di Surabaya tersebut.

Maklum saja, peristiwa sadis itu dinilai sangat mengejutkan bangsa Indonesia, karena sebelumnya peristiwa berdarah itu dialami oleh sejumlah anggota Brimob Kelapa Dua Depok. Dimana 5 Anggotanya gugur ditangan tahamam teroris dalam peristiwa kerusuhan di Rutan Salemba cabang mako Brimob Kelapa Dua itu.

Menyikapi peristiwa berdarah di Surabaya,  Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyatakan pelaku bom di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5), diduga kuat adalah satu keluarga.

“Tim sudah bisa mengidentifikasi pelaku. Pelaku diduga satu keluarga yang melakukan serangan. Seperti di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno yang menggunakan mobil Avanza diduga adalah bapaknya bernama Dita Prianto,” kata Kapolri saat merilis peristiwa itu di Rumah Sakit Bhayangkara Mapolda Jatim.

Tito melanjutkan, sebelum melakukan aksi di Gereja Pantekosta, pelaku terlebih dahulu menurunkan istri yang bernama Puji Kuswati dan dua anak perempuan bernama Fadila Sari (12) dan Pamela Riskita (9). Sementara pelaku di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela adalah dua orang laki-laki yang diduga anak Dita.

“Satunya, Yusuf  Fadil usia 18 tahun dan Firman Halim berusia 16 tahun. Semuanya adalah jenis bom bunuh diri namun jenis bomnya berbeda,” ujar Tito.

Dijelaskannya, pelaku bom di Gereja Pantekosta meletakkan di dalam mobilnya. Setelah itu Dita menabrakkan mobilnya karena merasa terdesak. Sedangkan di GKI Jalan Diponegoro, tiga bom diletakkan di pinggang. Itu terlihat karena baik ibu dan anak mengalami luka dan rusak di bagian perut. Sementara atas dan bawah masih utuh.

“Kalau di gereja di Ngagel menggunakan bom yang dipangku. Kita belum paham bom apa ini jelasnya. Ini bom pecah dengan efeknya yang besar dibawa dengan sepeda motor,” ucapnya.

Sampai saat ini, tim Laboratorium Forensik Polda Jatim masih menyelidiki bahan peledak apa yang dipakai.

“Kelompok tak lepas dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia yang dipimpin oleh Aman abdurahman,” kata Tito. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here