Temuan Kasus Gizi Buruk di Purwakarta, “Tamparan Keras”  Buat Dedi Mulyadi

0
999

PURWAKARTA (Garudanews.id) – Keberhasilan Dedi Mulyadi saat memimpin Kabupaten Purwakarta ternyata hanya dilihat dari pengembangan budaya saja. Namun dari sisi lain masih terjadi ketimpangan ekonomi yang cukup tinggi.

Hal itu terbukti dengan ditemukannya kasus gizi buruk di daerah tersebut. Sontak saja publik dibuat tercengang. Karena pada setiap kesempatan mantan orang nomor satu di Purwakarta itu kerap mengumbar keberhasilannya dalam mengembangkan daerahnya.

“Entah apa yang menjadi barometer keberhasilan Dedi. Tapi yang jelas dengan ditemukanya kasus gizi buruk, merupakan sebuah tamparan bagi Dedi yang selama ini lebih menonjolkan pencitraan, dibanding berbicara fakta yang sesungguhnya,” ujar pengamat komunikasi politik, Dr.Adi Suparto kepada garudanews.id, Jumat, (11/5).

Adi mengatakan, keberhasilan seorang kepala daerah tidak bisa hanya diukur satu sisi. “Budaya memang perlu, dalam merekatkan kedaerahan itu sendiri. Namun yang terpenting adalah bagaimana masyarakat memiliki penghasilan yang layak. Seperti meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui sektor riel. Diantaranya dengan mengalokasikan anggaran kepada pelaku ekonomi mikro,” kata Adi.

Dengan kasus yang terjadi seperti adanya gizi buruk, lanjut Adi, Dedi Mulyadi dinilai gagal untuk mengakomodasi kepentingan budaya dan ekonomi.

Sebelumnya, Hasanudin (18) penderita gizi buruk di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta. Akibat gizi buruk yang dideritanya, Hasanudin tidak bisa beraktivitas seperti remaja normal lainnya, karena hanya bisa beristirahat di atas kasur.

Penyakit ini pula yang membuat anak bungsu dari 4 bersaudara itu tak bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMP. Belum lagi keterbatasan ekonomi yang  membuat pengobatan Hasanudin pun semakin sulit.

“Ayah kerjanya mancing, ibu hanya seorang ibu rumah tangga. Kegiatan saya sehari-hari paling cuma tiduran saja,” tutur Hasanudin kepada Ridwan Kamil, Jumat (11/5/2018).

Kini Hasanudin dirawat di rumah pamannya, Bayu, di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta. Menurut Bayu, langkah ini ditempuh agar akses pengobatan Hasanudin, lebih mudah.

“Ketahuannya kan baru dua atau tiga tahun yang lalu, cuma di sana berobat susah. Kalau mau ke Kota Purwakarta harus menghabiskan waktu 1,5 jam, itu pun pakai perahu dulu, kalau di sini kan lebih dekat (ke dokter),” kata dia.

Bayu pun berharap ada penanganan yang lebih intensif agar keponakannya bisa segera sembuh. “Selama ini juga sudah sering melaporkan, tapi tetap enggak ada respon, dari pemerintah kabupaten Purwakarta” ucap dia.

Kondisi Hasanudin dibenarkan dr Reza Rinaldi, yang memeriksa Hasanudin. Ia memastikan penyakit  busung lapar yang diderita Hasanudin sudah berlangsung cukup lama dan tidak mendapat penanganan yang baik. Di usia 18 tahun, Hasanudin hanya memiliki berat badan 20 kg, jauh dari angka yang ideal.

”Ini malnutrisi protein menahun, harusnya cukup asupan makanan bergizi sejak kecil. Butuh terapi tumbuh kembang yang masif, karena idealnya usia 18 tahun harusnya mencapai 45 sampai 50 kg,” ucap dia.

Menanggapi hal ini, Calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akan berupaya mencari solusi untuk menangani permasalahan busung lapar di Jawa Barat. Untuk diketahui, data dari Persatuan Ahli Gizi Jawa Barat, pada tahun 2017, kasus kurang gizi di Jawa Barat masih berada di angka 29,2 persen atau masih melebihi batas angka yang ditetapkan WHO yakni 22 persen.

“Sedih juga saya di Purwakarta masih ada kasus Malnutrition Energy Protein ini (busung lapar). Selain menangani Hasanudin, saya akan fokus pada solusi agar tidak ada Hasanudin-Hasanudin lainnya di Jawa Barat,” ucap pria yang akrab disapa Kang Emil ini.

Beberapa program yang akan dia lakukan untuk menanggulangi kasus gizi buruk di Jawa Barat di antaranya dengan mengaplikasikan program Ojek Makannan Balita (Omaba). Program ini sudah berjalan di Kota Bandung, dan siap dibawa ke Jabar jika dirinya terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat nanti.

“Programnya kami menyiapkan makanan sehat dan mengirimkannya ke rumah-rumah yang memiliki balita kurang gizi. Setiap hari kami kirim dua porsi, karena rata-rata mereka tinggal di desa yang jauh, sehingga enggak mungkin kalau mereka yang ambil sendiri,” ucap dia.

Selain itu, diperlukan juga pelatihan untuk para Kepala Desa agar bisa melaporkan kasus gizi buruk di daerahnya secara online. (red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here