Sidang STT Setia, Saksi Ahli Sampaikan Dua Azas

0
130
Sidang lanjutan kasus Sekolah Tinggi Teologia Altamar (STT Setia) dengan terdakwa Rektor Matheus Mangentang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (14/5) siang,

JAKARTA (Garudanews.id) –  Sidang lanjutan kasus Sekolah Tinggi Teologia Altamar (STT Setia) dengan terdakwa Rektor Matheus Mangentang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (14/5) siang, menghadirkan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Dr. Eva Acjani Zulfa, S.H, M.H, sebagai Saksi Ahli.

Dalam kesaksiannya, DR Eva A Zulfa  menyampaikan dua azas yakni ‘ultimum remedium’ dan nebis in idem. Dalam  azas ultimum remedium penerapan sanksi pidana yang merupakan sanksi pamungkas (terakhir), ketika sanksi administrasi atau sanksi lain tidak bisa diterapkan.

“Banyak sekali kasus  yang menggunakan asas ini dalam penyelesaiannya. Misalnya dalam kasus pajak, seorang yang diancam hukuman pidana, bisa dihapuskan pidananya jika dia mengaku bersalah, bersedia membayar tunggakan pajak dan denda-dendanya,” katanya.

Dalam kasus lain disebut juga KTP ganda, dimana pelakunya tidak bisa dipidana, karena kesalahan ada di negara yang mengeluarkannya.

Menjawab pertanyaan Jaksa Penuntut Umum apakah asas ini bisa dipergunakan untuk semua kasus pidana, Dr. Eva Achjani mengatakan tergantung pada konteksnya. Asas ini tidak bisa dipergunakan dalam UU Tipikor maupun UU Antiterorisme.

“Ultimum remedium merupakan  prinsip hukum yang umum, apakah itu akan diterapkan kalau tidak sanksi hukum yang lain atau tidak, yang penting tujuan apa yang ingin dicapai dalam masyarakat,” jelasnya.

Hal lain yang ditanyakan oleh Penasihat Hukum terdakwa, Tommy Sihotang, SH adalah mengenai pengertian asas nebis in idem. Menurut saksi ahli arti dari asas tersebut adalah: seseorang tidak dapat disidangkan lebih dari satu kali dalam perkara yang sama.

Dr. Eva mencontohkan satu perbuatan pidana seseorang memecahkan kaca etalase milik orang lain. Dalam sidang orang tersebut dibebaskan, maka orang tersebut tidak bisa lagi diperkarakan dalam kasus yang sama.

Diketahui, sidang kasus STT Setia dengan terdakwa Rektor STT Setia Matheus Mangentang dan Direktur STT Setia Ernawaty Simbolon. Keduanya didakwa telah menyelenggarakan pendidikan tanpa izin dan penerbitan ijazah secara tidak sah.

Perkara tersebut sudah pernah disidangkan secara perdata maupun pidana, yakni secara perdata di PN Jakarta Barat, dan secara pidana di PN Tangerang. Dalam persidangan hingga tingkat kasasi, Matheus Mangentang dinyatakan tidak bersalah dan menang secara perdata. Kini keduanya disidangkn lagi di PN Jakarta Timur dalam perkara yang sama. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here