Asisten Pribadi Menpora Disebut Ikut Mengatur Komitmen Fee

0
83
Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

JAKARTA (Garudanews.id) – Asisten pribadi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Miftahul Ulum disebut sebagai pihak yang berperan dalam mengatur komitmen fee penyaluran dana hibah dari Kemenpora ke Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Hal itu terungkap dalam pembacaan dakwaan oleh Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), untuk terdakwa, Sekretaris Jenderal KONI, Ending Fuad Hamidy.

“Bahwa untuk memperlancar proses persetujuan dan pencairan dana bantuan tersebut, telah ada kesepakatan mengenai pemberian komitmen fee dari KONI kepada pihak Kemenpora sesuai arahan Miftahul Ulum, selaku asisten pribadi Imam Nahrawi,” kata jaksa KPK, Ronald F. Worotikan membacakan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, (11/3).

Menurut Jaksa KPK, Ulum adalah pihak yang menentukan bahwa besaran komitmen fee dari total dana hibah yang akan diterima KONI sebesar 15-19 persen. Dalam dua kali usulan dana hibah dari KONI, koordinasi dengan Ulum dilakukan setelah proposal disetujui. Menurut jaksa, atas arahan Ulum pula, Ending membuat daftar rincian pihak Kemenpora yang akan menerima komitmen fee tersebut.

Ulum belum memberikan respon terkait dakwaan jaksa tersebut. Seperti dikabarkan Tempo, KPK sempat memeriksa Ulum sebanyak dua kali sebagai saksi dalam kasus ini. Usai pemeriksaan dia mengatakan ditanyai soal tugas dan fungsi asisten pribadi. Dia enggan berkomentar lebih banyak. Sebelumnya, dia membantah terlibat dalam kasus suap di kementeriannya.

“Yang jelas tidak ada peran saya,” kata dia.

Dalam perkara ini, jaksa KPK mendakwa Ending dan Bendahara Umum KONI, Johny E. Awuy menyuap tiga pejabat di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Ketiga pejabat itu, yakni Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana; pejabat pembuat komitmen di Deputi IV, Adhi Purnomo dan Staf Deputi IV Kemenpora, Eko Triyanta.

KPK menyebut Mulyana menerima satu mobil Toyota Fortuner VRZ TRD, uang Rp 300 juta, kartu ATM BNI berisi Rp 100 juta dan satu ponsel Samsung Galaxy Note 9. Sedangkan Adhi Purnomo dan Eko Triyanta mendapatkan total Rp 215 juta. Proses hukum ketiganya kini masih dalam tahap penyidikan di KPK.

Ketua Umum Lembaga Aspirasi Indonesia (LAMI) Jonly Nahampun menyatakan dukungannya terhadap KPK untuk mengusut tuntas kasus suap komitmen fee dana hibah KONI.

“Selain mengusut keterlibatan Asisten pribadi Menteri Pemuda dan Olahraga, jaksa KPK juga harus mendalami peran Imam Nahrawi sebagai Menpora, notabenenya bos dari Miftahul Ulum. Karena asisten tidak akan berani bertindak tanpa arahan dari bosnya” ucap Jonly kepada garudanews.id, Selasa (12/3).

Jonly mengatakan, berdasarkan fakta persidangan, patut diduga ada keterlibatan Imam Nahrawi dalam kasus suap fee dana hibah KONI.

“Tidak ada alasan lagi,  KPK harus segera menyeret Imam Nahrawi, dan segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait adanya dugaan suap dalam dana hibah tetsebut,” kata Jonly. (Edr/Tmp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here