BNPB Rancang Alat Panen Hujan Sebagai Solusi Penampungan Air

0
763
Ilustrasi

KARANGASEM,BALI (Garudanews.id) – Anak-anak dipengungsian yang terbiasa bermain riang diseputaran pengungsian harus mengurangkan niatnya, karena tak lama langit mendadak mendung dan hujan lebat turun. Berdasarkan Sumber dari BMKG Denpasar Peringatan Dini Cuaca Bali Senin, (11/12) pukul 07:00 WITA masih terjadi Hujan Sedang-Lebat di Tuban, Kuta, Nusa Dua, dan dapat meluas ke wilayah Pecatu, Jimbaran, Ungasan, dan sekitarnya.

Memasuki musim penghujan dan mengatasi krisis air bersih dipengungsian. BNPB berinisiatif merancang alat panen air hujan di Desa Tembok Kecamatan Tejakula. Alat ini selain mencegah banjir juga merupakan solusi air bersih bagi pengungsi. Berdasarkan data BNPB pada tanggal 10 Desember 2017 tercatat jumlah pengungsi gunung Agung berjumlah 70.079 tercatat di 237 titik. Jumlah pengungsi yang besar merupakan indikasi kebutuhan air bersih dipengungsian masih tinggi.

Berbagai cara dalam memanen air hujan telah ditempuh di indonesia. Misalnya dengan mengumpulkan air dalam embung, telaga, bak penampungan air hujan, hingga membuat biopori dan sumur resapan. Namun, air yang terkumpul sering kali bercampur dengan debu atau dedaunan sehingga kesehatan air tersebut diragukan. Berbeda dengan alat pemanen hujan ini selain bebas daun, debu, dan sangat jernih. Sebab, alat ini memiliki penghalau daun dan debu. Air di dalam juga masih disaring lagi sehingga terjamin kebersihannya.

Alat Panen Hujan dengan teknologi pemanen air hujan awalnya diciptakan oleh Dr. Agus Maryono selaku Dosen Magister Sistem Teknik UGM. Alat ini kemudian dikembangkan tim UGM telah diterapkan di Imogiri, Kali Code Yogyakarta dan Deles-Klaten. Selain bermanfaat, alat ini juga relatif murah. Alat ini sangat berguna untuk menampung air hujan dimusim penghujan dan air tersebut sangat bermanfaat ketika krisis air bersih dimusim kemarau panjang.

Firza dari BNPB saat merakit Alat Pemanen Air Hujan di desa Tembok, Kecamatan Tejakula pada Minggu, (10/12) mengatakan alat Pemanen Air Hujan dapat mengurangi volume air hujan yang terbuang masuk ke saluran air atau sungai, sehingga jika alat ini bisa diaplikasikan secara masif di masyarakat, dapat mengurangi potensi genangan atau banjir yang mungkin dapat ditimbulkan.

“Selain itu alat ini juga dapat di hubungkan dengan sumur resapan, untuk menyimpan air dan meningkatkan imbuhan air tanah, sehingga alat ini juga dapat bermanfaat ganda tidak hanya untuk mengatasi banjir namun juga dapat mengurangi dampak pada saat musim kekeringan. Pemanfaatan alat panen air hujan ini melalui penggunaan bak penampungan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di masyarakat,” kata Firza dalam keterangan tertulisnya yang diterima garudanews.id, Selasa, (12/12).

Pengungsi yang berada dititik pengungsian dapat menampung dan memanfaatkan air hujan. Tidak perlu khawatir dengan kualitas air hujan yang hendak ditampung. Karena pada dasarnya kualitas air hujan sangat baik. Dan pada alat panen air hujan ini juga sudah ada sistem penyaringan, 4-5 menit hujan awal akan masuk ke dalam tabung penyaringan, dan selanjutnya baru akan masuk ke dalam bak penampungan setelah melalui saringan halus terlebih dahulu. Sehingga air yang berada dalam bak penampungan sdh bersih dan dapat dimanfaatkan sebagai air bersih. Alat ini sedang di ujicobakan di desa Tembok, Kecamatan Tejakula. Kami merancang sebanyak 5 tendon air besar hasil curahan air hujan dan akan ditempatkan dibeberapa titik pengungsi. Biaya membangun Alat Pemanen Air hujan ini sekitar Rp 2,6 juta, ”ujar Firza.

Sementara itu, Ayu pengungsi di desa Tembok mengatakan, “Sejak warganya kesulitan mendapat air bersih pemerintah desa sudah berupaya mencarikan jalan keluar agar krisis air bisa ditangani secepatnya. Alternatif air bersih yang disediakan BNPB dengan memanfaatkan dari curahan air hujan, Alat Pemanen Air Hujan ini semoga dapat membantu tersedianya air bersih bagi pengungsi saya senang sekali adanya alat ini dapat menambah air bersih bagi pengungsi. Semoga dengan adanya alat ini dapat mengurangi krisis air dipengungsian,” ujar Ayu.

Cara kerja alat Panen Air Hujan

Alat ini akan berfungsi selayaknya waduk penampung air. Jadi ketika hujan turun dengan deras, alat penampung hujan ini akan menampung limpahan air hujan melalui talang air yang sudah terpasang. Kemudian air yang tertampung akan diolah dengan sistem penyaringan guna menyaring berbagai polutan yang terlarut di dalamnya sebelum digunakan. Sehingga airnya bisa bersih dapat digunakan.

Ada semacam bola seperti bola pingpong yang dipasang di alat pemanen air hujan sehingga air hujan yang pertama kali turun bisa dikeluarkan dan digantikan dengan air hujan berikutnya. Air hujan yang pertama kali turun biasanya masih mengandung banyak kotoran dan tak layak untuk digunakan. Setelah melalui berbagai proses sterilisasi air hujan, air hujan ini akan dialirkan menuju tempat penampungan. Kapasitasnya bisa mencapai 2.000 liter air.

Alat pemanen hujan semakin lengkap jika bersanding dengan sumur resapan. Fungsinya untuk menampung kelebihan air hujan yang sudah tidak mampu ditampung. Meski demikian, penggunaan alat pemanen hujan ini juga punya aturan main. Pada minggu pertama dan kedua musim hujan, jangan masukkan air hujan karena atap masih sangat kotor dan penuh debu ketika musim kemarau. Walau sudah ada penghalau debu dan daun, lebih baik tetap bersabar dulu. Operasional alat bisa dimulai pada minggu ketiga atau keempat. Pada saat musim hujan, air juga sebaiknya tidak langsung dimasukkan tangki. Biarkan air hujan membersihkan genteng terlebih dahulu pada 10 menit pertama.

Penampungan air tidak menggunakan bak melainkan tangki tertutup dan dilengkapi dengan saringan. Saringan pertama berfungsi untuk menyaring daun-daun yang terbawa air dari talang. Saringan kedua menggunakan bola plastik yang berfungsi untuk menyaring debu dan lumpur yang terbawa oleh air.

Namun untuk keperluan air minum harus dibawa ke Dinas Kesehatan untuk dilakukan uji laboratorium. Air hujan tidak mengandung bakteri E coli. Tapi dari sisi kandungan mineral, kualitas air sumur lebih baik karena air hujan tidak mengandung mineral. Oleh karena itu untuk daerah yang tidak banyak kandungan mineralnya tidak disarankan menggunakan air hujan untuk konsumsi sehari-hari. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here