Bulog dan ABMI Sinergi Stabilkan Harga Bawang

0
223

BREBES (Garudanews.id)  – Dalam beberapa pekan belakangan ini harga bawang merah pada tingkat petani anjlok.

Kepala Bulog Divre Jawa Tengah, M. Sugit Tedjo Mulyono mengatakan, Bulog merupkan operator atau kepanjangan tangan dari pemerintah. Pihaknya adalah jembatan antara pemerintah dengan produsen, petani hingga pedagang.

“Bulog bekerja atas perintah dari pemerintah untuk melakukan upaya stabilisasi harga dalam harga ini harga bawang merah. Dalam menstabilkan harga, semua pihak harus terlibat, mulai dari produsen, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan para produsen,” jelas Sugit.

Sugit menegaskan, berdasarkan Perpres No 48 Tahun 2018, pihaknya hanya mengelola 3 bahan komoditas yakni jagung, beras dan kedelai. Pemerintah menugaskan Perum BULOG untuk menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga untuk jenis pangan pokok beras, jagung dan kedelai,” kata Sugit.

Sementara itu, Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Bulog dan Kementerian Pertanian bersama-sama mencari solusi untuk menstabilkan harga barang mewah di pasaran.

Ketua ABMI, Juwari mengatakan, bahwa pihaknya akan selalu bersinergi dengan pemerintah untuk menstabilkan harga bawang merah di pasaran. Salah satunya dengan melakukan penanman periodic di sejumlah daerah sentar penghasil bawang.

“Misalnya di Brebes para petani memulai menanamnya pada bulan Januari, lalu di Solok mulai menanamnya pada bulan April, dan seterusnya. Hal ini maksudnya agar stok bawaang merah terjamin dan harga bawang merah juga stabil,” kata Juwari saat diskusi ‘Solusi Pemerintah Dalam Mengatasi Anjloknya Harga Bawang’, yang digelar Jalan Media Communication (JMC), di Hotel Grand Dian, Brebes, Selasa (23/10/2018).

Pada kesempatan itu, Juwari juga memuji pemerintah yang telah menghentikan keran impor bawang merah sejak tahun 2015 lalu, sehingga petani lokal bisa melakukan eksport bawang merah hingga keluar negeri.

“Pemerintah sudah menghentikan impor bawang merah 2015. Sehingga kita bisa melakukan ekport keluar negeri. Namun sayangnya angka ekport bawang merah keluar masih kecil, yakni hanya 1 persen. Kami berharap angka eksport bawang merah bisa ditingkatkan lagi,” kata Juwari.

Senada, Direktur Pengelolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Ir. Yasid Taufik, MM mengatakan, pihaknya telah menyiapkan 10 langkah dalam menstabilkan harga bawang merah.

“Pertama, menyeimbangkan pasokan dengan ekstensifikasi kawasan di luar jawa. Kedua, mengintensifkan teknologi pada sentra di Jawa. Ketiga, peningkatan kapasitas petani di Luar Jawa. Keempat, penggunaan benih biji untuk bawang merah (TSS) sehingga efisien biaya 65 persen.

Kelima, penajaman manajemen dengan petani champion. Keenam, mengatur Pola Tanam antar waktu dan antar wilayah. Ketujuh, pembentukan pasar lelang hortikultura untuk menjaga stabilitas harga dan transparansi di farmgate, one region one price, cash and carry serta memotong rantai pasok.

Kedelapan, Hilirisasi produk menjadi olahan rumah tangga dan bermitra industri agar turut menyerap. Kesembilan, teknologi penyimpangan sehingga lebih awet dan tahan lama. Kesepuluh, perluasan ekspor bawang merah minimal naik 2 kali lipat dibanding tahun lalu,” kata Yasid.

Sementara itu, anggota DPRD kabupaten Brebes Joni Waluyo mendukung penuh upaya pemerintah pusat dalam menstabilisasi harga bawang.

Namun demikian ia juga berharap agar produktivitas bawang di Brebes dapat diserap oleh Bulog.

“Bahkan kami berharap agar bawang merah di Brebes dapat memenuhi standarisasi ekspor. Sehingga masyarakat petani bawang bukan hanya mengeluhkan kerugian terus,” ucap politisi PAN ini.

Joni mengatakan, persoalan adanya isu impor bawang yang sempat mencuat di publik, ia meminta agar pemerintah perketat pengawasan. Karena keberadaan bawang impor bukan hanya akan membunuh petani lokal, selain itu, lanjut dia, persoalan tersebut juga bisa merusak harga di pasaran. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here