Inilah Pandangan Politk Jokowi Menurut Pengamat Komunikasi

0
77
Presiden Jokowi dan Wapres JK saat memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan di kator Wapres, Selasa, (6/2).

JAKARTA (Garudanews.id) – Capres Petahana menggunakan strategi politik Gotong Rotong,  sama sekali bukan ‘babat alas’

Pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing mengatakan, pandangan Hendri Satrio yang menilai Capres petahana, Joko Widodo (Jokowi) menggunakan strategi ‘babat alas’, sebagaimana yang dimuat salah satu media online nasional, belum terlihat sajian data yang jenuh,  mendalam, dan komprihenship. Bahkan belum tampak bangunan argumentasi yang kukuh.

“Mengapa demikian? Mari kita lihat data dan argumentasi yang tersedia,” ujar Emrus dalam keteranga tertulisnya yang diterima garudanews.id, Jumat (9/11).

Ada dua pandangan Hendri Satrio pada berita tersebut yang tampaknya belum sejalan antara satu dengan yang lainnya.  Berita yang terdapat pada link tersebut, kata Emrus, memuat dua kutipan langsung pandangan Hendri Satrio.

Pertama. “Bergabungnya tokoh-tokoh penting ke kubu Jokowi ini ibaratnya persaingan dua tim sepakbola. Tim sepakbola yang satu ini merekrut semua pemain terbaik supaya semata-mata tim lain tidak memiliki tim yang bagus, sehingga mudah dikalahkan,” kata Hendri.

Dari kutipan di atas,  kata Emrus, jelas terlihat bahwa tokoh-tokoh tersebutlah yang aktif ingin bergabung atas kesadaran sendiri. Lalu direkrut. Yusril Ihza Mahendra, misalnya,  sebagai tokoh yang punya independesi mengambil keputusan untuk bergabung.

Kedua. “Akhirnya semua direkrut, semua diminta mendukung, termasuk sosok Yusril dan PBB-nya,” lanjut Hendri.

Emrus menyebutkan, pada kutipan kedua ini menyebutkan semua diminta mendukung. Pilihan diksi ‘diminta’ seolah-olah Capres Petahana yang aktif.

Menurutnya, menyebutkan ‘diminta’ mendukung, sulit diterima akal sehat. Mana mungkin seorang tokoh seperti Yusril Ihza Mahendra bisa dengan mudah menuruti permintaan calon petahana.

“Sebab,  menurut saya,  Yusril Ihza Mahendra, aktor sosial yang mempunyai kehendak bebas secara otonom,” ucapnya.

Berdasarkan uraian di atas maka lebih tepat disebut bahwa Capres Petahana menerapkan strategi Politik Gotong Royong. Sama sekali belum cukup kuat bila dikonsepkan sebagai ‘babat alas’.

Pada bagian lain, masih di berita yang sama,  memuat kutipan langsung dari Hendri Satrio. “Misal merekrut semua media yang ada, …”

Lagi-lagi pada kutipan ini memposisikan media sebagai yang bisa dengan mudah direkrut oleh petahana.  Padahal,  setiap media yang kredibel punya kebijakan redaksional yang jelas dan tegas yang membuat media itu bisa bersikap independent.

“Independen artinya, media harus berani mengambil sikap dan posisi yang berpihak kepada kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Hal ini pernah dilakukan ketika Pers kita turut berjuang kemerdekaan,” ucapnya.

Sebagai sebuah institusi sosial,  media memiliki kehendak bebas untuk berpihak kepada yang terbaik.

Karena itu,  dalam suatu kontestasi politik,  seperti dalam rentang masa kampanye,  media bisa saja mengambil garis yang jelas terhadap salah satu kekuatan politik sepanjang itu diyakini sebagai sesuatu yang mampu membuat perubahan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. (red0

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here