Kurangi Titik Banjir di Jakarta, Bendungan Ciawi Terapkan Konsep Bendungan Kering

0
213
Ilustrasi

BOGOR (Garudanews.id) – Untuk mengurangi titik banjir di Jakarta, Bendungan Ciawi dan Sukamanah terapkan konsep bendungan kering atau dry dam. Dua bendungan kering sengaja dibangun untuk mengurangi titik –titik banjir di Jakarta.

“Kedua bendungan ini akan menahan aliran air dari Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebelum sampai ke Bendung Katulampa yang kemudian mengalir ke Sungai Ciliwung. Selain itu, bendungan juga bermanfaat untuk konservasi air dan pembangunan pariwisata di Jawa Barat. Jumlah titik banjir di Jakarta bisa berkurang cukup siginifikan. Jika saat ini ada 78 titik banjir di Jakarta, maka kehadiran dry dam bisa membuat titik banjir berkurang menjadi tinggal 38 titik saja,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung – Cisadane Kementrian PUPR, Jarot Widioko kepada wartawan, Selasa (5/12).

Dari penelusuran debit banjir kala ulang 50 tahun, pembangunan Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi akan mengurangi debit banjir di Pintu Air Manggarai sebesar 577,05 meter kubik per detik. Bila dikurangi dengan debit Sungai Ciliwung yang nantinya dialirkan Kanal Banjir Timur melalui Sudetan Ciliwung sebesar 60 meter kubik per detik, maka debit di PIntu Air Manggarai sebesar 517,05 meter kubik per detik.

“Secara keseluruhan di Jakarta akan berkurang risiko banjir 12 persen dengan menggeser waktu puncak banjir 2-4 jam,” terangnya. Air hujan yang turun di Ciawi dan Sukamahi langsung tertampung di bendungan tersebut kemudian mengalir lewat terowongan secara konstan dengan kecepatan 45 meter kubik per detik ke KBT sampai Pintu Air Manggarai.

Menurut Jarot, dry dam sangat unik karena tidak seperti bendungan lainnya yang terisi air dalam kondisi normal, dry dam justru akan kering saat kondisi normal.

“Air baru akan mengisi bendungan jika intensitas hujannya tinggi terutama di musim penghujan. Kalau musim kemarau bendungan ini kering. Selain itu, bendungan ini dibuat dengan desain Q50 yang berarti debit itu mungkin terjadi satu kali dalam 50 tahun. Probabilitas tercapainya debit 50 tahun adalah sekali dalam 50 tahun,” jelasnya.

Jarot menjelaskan, secara alami, air hujan yang turun harusnya langsung masuk ke tanah. Namun yang terjadi sekarang air hujan menggenangi tanah dan mengalir ke selokan dengan membawa sedimentasi tanah. Akibatnya, sungai yang tidak pernah dikeruk dan mengalami perluasan membuat daya tampungnya menjadi penuh hingga menggenangi kawasaan permukaan.

“Kondisi ini bertambah parah ketika air tanah dieksploitasi secara massif untuk berbagai keperluan permukiman dan industri,” ujarnya. Kontrak Pembangunan Bendungan Ciawi ditandatangani pada 23 November 2016 antara pihak SNVT PJSA Ciliwung Cisadane dan Abipraya-Sacna KSO sebagai pihak kontraktor dengan nilai pekerjaan konstruksi Rp757,8 miliar melalui kontrak tahun jamak (multi years).

Bendungan Ciawi merupakan dry dam yang memiliki volume tampung 6,45 juta meter kubik dan luas area genangan 29,22 hektare. Penandatanganan kontrak pembangunan Bendungan Sukamahi senilai Rp436,97 miliar dilakukan pada 20 Desember 2016 dengan kotraktor Wijaya-Basuki KSO.

Bendungan Sukamahi memiliki daya tampung tampung 1,68 juta meter kubik dan luas area genangan 5,23 hektare. Kedua bendungan tersebut ditargetkan selesai konstruksinya pada 2019. (ded/pend).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here