Mako Brimob Mencekam, Polri Dinilai Kecolongan

0
309
Ketua Presidium Indonesian Police Wach (IPW) Neta S Pane. (Ist)

JAKARTA (Garudanews.id) –  Kerusuhan napi teroris di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok menjadi sorotan. 5 orang anggota polisi dinyatakan gugur dan seorang tahanan tewas. Kerusuhan terhadi sejak Selasa (8/5) kemarin malam.

Hingga saat ini, polisi belum menjelaskan secara transparan tentang apa yang sesungguhnya terjadi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyayangkan atas peristiwa tersebut.

Pihaknya juga mempertanyakan kenapa situasi mencekam Mako Brimob tidak terkendali hingga 20 jam dan membuat aktivitas masyarakat terganggu akibat jalan diblokir.

“Indonesia Police Watch (IPW) mencatat, kekacauan di Rutan Mako Brimob sebenarnya sudah terjadi sejak pukul 15.00 Selasa sore dan hingga pukul 10.00 Rabu pagi jalanan di sekitar Mako masih diblokir. Ironisnya tidak ada penjelasan yang transparan dari kepolisian tentang kekacauan yang terjadi di Mako Brimob,” tutur Neta, seperti dalam keterangan resminya yang diterima garudanews.id, Rabu, (9/5).

Lebih lanjut ia menjelaskan, Dari informasi yang diperoleh IPW, kekacauan terjadi pukul 15.00 dan tidak cepat dikendalikan. Akibatnya, pada pukul 21.00 napi teroris berhasil menjebol teralis tahanan. Para napi juga berhasil merampas senjata polisi dan menyandera empat anggota polisi yang satu di antaranya wanita berpangkat iptu.

“Dalam kekacauan itu terjadi aksi tembak menembak antara polisi dengan napi yang menguasai rutan. Pukul 06.00 sejumlah ambulance tiba di rutan dan terlihat sejumlah orang dibawa dengan ambulan. Pukul 09.30 mobil DVI terlihat masuk ke rutan Brimob,” ucapnya.

IPW mengimbau, kepolisian harus menjelaskan peristiwa ini dengan transparan tentang apa yang terjadi, tentang berapa korban tewas dan luka dalam kekacauan itu dan tentang senjata api polisi yang berhasil dirampas napi teroris.

Sebab, dari informasi yang diperoleh ada lima sampai tujuh unit senjata api polisi yang dirampas napi teroris dan inilah yang membuat polisi kesulitan mengendalikan situasi karena para napi melakukan perlawanan sengit dengan senjata api rampasan. “IPW sangat prihatin dengan apa yang terjadi di Mako Brimob. Ini adalah kekacauan yang kedua di Rutan Mako Brimob. Dan kekacauan ini terjadi beberapa saat setelah Brimob memunculkan kontraversial karena berpatroli mengamankan kantor kantor partai politik di Semarang,” katanya.

Neta sangat heran, bagaimana Brimob bisa berpatroli menjaga kantor orang lain sementara menjaga markasnya sendiri kebobolan. Bagaimana Brimob bisa diharapkan maksimal menjaga pilkada serentak, menjaga markasnya sendiri kebobolan.

“Dengan adanya kekacauan di rutan Mako Brimob ini, Kapolri sudah saatnya mengevaluasi jabatan Dankormar Brimob sehingga kekacauan tidak terulang lagi di rutan Brimob,” tuturnya. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here