Survei INES: Partai Gerindra Ungguli PDIP dan Golkar

0
250
Ilustrasi

JAKARTA (Garudanews.id) – Ini baru kejutan tersendiri di dunia politik nasional! Hasil survei Indonesia Network Election survei (INES) terhadap elektabilitas bakal calon presiden 2019 bertolkak belakang dengan hasil survei lembaga-lembaga lainnya.

Survei INES menunjukkan elektabilitas Prabowo Subianto jauh mengungguli petahana Joko Widodo (Jokowi). Partai Gerindra juga tampil gemilang sebagai partai dengan elektabilitas tertinggi, mengungguli Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) dan Partai Golkar. Nah!

Peneliti INES memaparkan, survei INES dilakukan selama dua pekan pada 12-28 April 2018.  Survei menyasar kepada 2.180 responden yang dipilih secara proporsional di 408 kabupaten/kota di Indonesia. Metode yang dilakukan dengan multistage random sampling. Tingkat kepercayaan 95% dengan margin of error lebih kurang 2,1%.

Populasi survei adalah warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di sektor domestik atau publik dengan aneka profesi dengan ragam pendidikan dan ragam umur, serta penghasilan dan latar belakang agama yang berbeda. INES melakukan pengumpulan data dengan wawancara secara sistematis dan melakukan cek ulang di lapangan sebanyak 20% dari seluruh responden.

Salah satu pertanyaan terhadap nama-nama top of mind, jika pemilu dilakukan hari ini, siapa presiden yang akan dipilih?

“Prabowo unggul 50,20%, Jokowi 27,70%, Gatot Nurmantyo 7,40%, dan tokoh lain 14,70%,” ujar Direktur INES Oskar Vitriano, dalam paparannya, di Mess Aceh Amazing Hotel, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (6/5/2018).

Menurut Oscar, tingkat kepercayaan publik kepada Prabowo semakin meningkat. Ini terbukti ketika responden disodorkan pertanyaan di atas secara tertutup. Hasilnya, Prabowo masih tetap unggul dengan perolehan suara di atas 54,50%. Sementara Jokowi mendapatkan 26,10%, Gatot Nurmantyo 9,10%, dan tokoh lain 10,30%.

Kontroversi juga terjadi ketika dilakukan survei terhadap elektabilitas  partai politik. Gerindra mendapatkan suara terbanyak dengan angka 26,2 persen disusul PDIP (14,3%), Golkar (8,2%), PKS (7,1%), Perindo (5,8%), PKB (5,7%), PAN (5,8%) , Demokrat (4,6%), PPP (3,1%), Nasdem (3,1%), Hanura (2,3%), PBB (2,1%), PKPI (0,9%), Berkarya (0,7 %), Garuda (0,4%) dan PSI (0,1%).

Oskar mengatakan, hasil survei ini merupakan tindak lanjut dari survei sebelumnya, manakala  67,3 persen responden ingin memiliki presiden baru. Sementara 21,3 persen responden masih ingin melihat Jokowi menduduki kursi nomor satu di Indonesia.

Menurut Oskar, responden cenderung mencari sosok presiden baru lantaran tidak puas dengan pemerintahan saat ini. Dari 54 janji kampanye Jokowi, INES mengidentifikasi sembilan janji yang paling diingat responden.

“Sebanyak 19,5 persen menyatakan janji itu dipenuhi, tapi 68,2 persen menyatakan Jokowi tidak menepati janji. Ini yang kemudian mempengaruhi hasil survei,” ujarnya kepada wartawan.

Sebagian besar ketidakpuasan responden, kata Oskar, terdapat dari segi ekonomi. Khususnya karena responden menganggap Jokowi tidak mampu menurunkan harga beras sebanyak 75,7 persen, lapangan kerja semakin berkurang (71,7%), dan khawatir atas utang negara yang kian menggunung (72,7%).

Lebih jauh Oskar menjelaskan, selain soal janji kampanye yang tak ditepati, responden yang disurvei lebih memilih Prabowo jadi presiden jika pemilihan dilakukan hari ini tak terlepas karena pengaruh kampanye media sosial #2019GantiPresiden.

Menurutnya, kebanyakan responden juga mengaku mendapatkan info dari media sosial. “Nah, fenomena media sosial ini bikin pergerakan elektabilitas cenderung dinamis, jadi mereka bisa terpengaruh dengan isu yang dibawa oposisi,” ucap Oskar.

Hadir sebagai narasumber Ketua Bidang Media dan Komunikasi Massa Perindo Arya Sinulingga, pengamat politik Syahganda Nainggolan, aktivis 1998 Haris Rusli Moti, wakil dari Kepemimpinan Spiritual Indonesia Eko Sriyanto Galgendu, dan ekonom Salamudin Daeng.

Hasil Survei Indikator

Hasil survei INES bertolak belakang dengan hasil survei lembaga-lembaga lain sebelumnya. Sebagai contoh. hasil survei (terakhir)  Indikator Politik Indonesia, Kamis (3/5/2018) yang menyebutkan elektabilitas petahana Jokowi menduduki posisi teratas dengan raihan 51,9 persen, Prabowo (19,2%), Anies Baswedan (2,2%),  Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 2,0%, Gatot Nurmantyo (1,7%), Hary Tanoesoedibyo (1,4%), Jusuf Kalla (1,0%), tidak tahu atau tidak menjawab (12,7%).

Berdasarkan tren semiterbuka dengan pertanyaan jika pemilihan presiden diadakan sekarang, dengan simulasi 5 nama, Jokowi unggul dengan 56,5%, Prabowo 24,2%, Anies 4,1%, serta Gatot dan AHY masing-masing 2,9%, tidak menjawab atau tidak memilih 9,8%.

Sedangkan untuk simulasi 4 nama, Jokowi tetap unggul dengan perolehan suara 57,3%, disusul Prabowo 25,2%, Anies Baswedan 4,5%, dan Gatot 3,3%. Ia menjelaskan, ketika yang diambil nama AHY, suaranya cenderung berpindah ke Prabowo dan sedikit ke Anies.

Sementara itu, jika Jokowi head to head dengan Prabowo Subianto, hasilnya, Jokowi tetap unggul. Jokowi memperoleh 60,6%, sedangkan Prabowo 29% dan tidak tahu atau tidak menjawab 10,4%.

Sedangkan jika head to head dengan capres selain Prabowo, Jokowi makin unggul dengan elektabilitas di atas 69%. Sedangkan lawannya, seperti Anies, mendapat perolehan 15,7%, dan Gatot 14,5%.

Burhanuddin memperkirakan pertarungan Jokowi vs Prabowo di Pilpres 2019 akan seru. Belum memanaskan ‘mesin’ saja, katanya, Prabowo sudah mendapat hampir 30 persen. “Kalau Pak Jokowi kan sudah muter ke mana-mana,” ujarnya.

Survei Indikator Politik Indonesia juga menempatkan elektabilitas PDIP sebagai partai peserta pemilu berada di posisi tertinggi 27,7 persen. Posisi kedua dan ketiga masing-masing ditempati Gerindra (11,4%) dan Golkar (8,0%). Demokrat menduduki posisi keempat dengan 6,6%, disusul PKB kelima (5,8%) dan Perindo keenam (4,6%).

Partai besutan Hary Tanoesoedibjo ini mengungguli PKS ketujuh (4,0%), PPP kedelapan (3,5%), Nasdem kesembilan (2,7%) dan PAN kesepuluh  (1,9%). Urutan selanjutnya, Garuda di urutan ke-11 memperoleh 0,7%, Hanura ke-12 (0,5%), PBB ke-13 (0,3%), Berkarya ke-14 (0,3%) dan PSI ke-15 (0,2%).

Survei Indikator dilakukan dengan wawancara tatap muka kepada 1.200 responden pada 25 Maret – 31 Maret 2018. Populasi survei,}warga Indonesia yang punya hak pilih, berusia di atas 17 tahun atau sudah menikah. Tingkat kepercayaan survei ini 95 persen dengan margin of error plus minus 2,9 persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here