Cendekia Lintas Agama Tegaskan Idiologi Pancasila Sudah Final

156

JAKARTA (Garudanews.id) – Para cendikiawan perwakilan dari lintas agama di Indonesia menegaskan bahwa, Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara sudah final. Artinya, tidak bisa dikotak-katik lagi.

Pernyataan tegas ini mencuat dalam Diskusi Nasional Ikatan Cendikiawan Hindu Indonesia yang dibuka Direktur Bimas Hindu Kementeriaan Agama I Wayan Budha di Jakarta, demikian seperti dikutip dari suarakarya, Sabtu (3/6).

“Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini tidak boleh diotak-atik lagi. Sudah final menjadi keputusan mutlak bagi seluruh warga Negara,” ujar Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Maskur Musa.

Sementara itu, Wakil Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pryo Budi Santoso menyatakan semua cendikiawan dari lintas agama di Indonesia harus menjadi motor untuk menegaskan kepada masyarakat, bangsa Indonesia, dan bahkan dunia, bahwa ideologi Pancasila yang sudah dianut dari nenek moyang kita harus menjadi pengikat persatuan, kesatuan anak bangsa.

“Akhir –akhir ini kita agak risau dengan pernyataan sejumlah orang tentang Pancasila sebagai dasar negara mau diotak-atik. Nah sekarang cendikiawan dari lintas agama ibarat “Begawan” harus menegaskan lagi bahwa Pancasila sebagai dasar negara, ideologi dan pandangan hidup bangsa tidak boleh diotak-atik,” kata Pryo Budi Santoso.

Dalam pengamalan Pancasila, sesama anak bangsa, lanjut Pryo harus saling menghormati, saling menghargai anak bangsa. Pancasila telah menjadi perekat kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Cendikiawan Hindu Indonesia ( DPP ICHI) Tri Handoko Seto. Ia menegaskan, Pancasila sebagai dasar Negara bukan merupakan mitos maupun ideology dengan kebenaran mutlak yang tak bisa kita sentuh bak menara gading. “Pancasila harus selalu dijadikan sebagai obyek diskusi dan menjadi wacana public,” katanya.

Menurut Tri Handoko, dengan menjadi wacana public, maka masyarakat perlu dan dapat terlihat dalam proses interprestasi dan re interprestasinya. Hadir dalam diskusi panel bertajuk “Peran Cendikiawan Dalam Dinamika Kebangsaan” antara lain, Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa, Wakil Ketua ICMI Pryo Budi Santoso, Sekreteris Rohaniawan Konghucu WS Budi Santoso Tanuwibowo (mewakili Matakin), Presidium Luar Negeri Pimpinan Pusat Sarjana Katolik (ISKA) Hermien Kleden, dan para fungsionaris Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), dan Keluarga Cendikiawan Budha Indonesia (ICHI).

Lebih lanjut Tri Handoko menambahkan, dalam situasi politik kebangsaan yang diwarnai oleh munculnya penolakan pihak tertentu terhadap Pancasila sebagai dasar negara, maka ICHI menilai peran para cendikiawan lintas agama untuk bersama –sama saling bahu membahu membantu membela dan mempertegas nilai-nilai Pancasila sebagai ideology bangsa.

Dalam diskusi tersebut, muncul keresahan, kerisauan, dan kegalauan dari para cendikiawan terhadap situasi bangsa dan Negara akhir-akhir ini. “Sesama anak bangsa saling menyerang, menghujat, dan suasana kebengsaan kita memanas,” kata Tri Handoko. (red)

Anda mungkin juga berminat