Caleg Zulkhair Ingin Jadikan Kampung Wadang jadi Kampung Kue Pleret

135

SIDOARJO (Garudanews.id) – Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPRD Provinsi Jawa Timur dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Zulkhair, berkenginan untuk menjadikan Kampung Wadang, Desa Tempel, Kecamatan Krian, untuk menjadi menjadi Kampung kue Pleret.

“Pemkab Sidoarjo harus memberi kontribusi untuk menggerakkan ekonomi agar pembuat kue Pleret makin maju,” ungkapnya.

Caleg DPRD Provinsi Jatim Dapil Sidoarjo ini pun mengaku siap mengarahkan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan untuk membantu mengembangkan kue Pleret agar lebih ekonomi warga lebih berdaya.

“Pasar harus diciptakan. Tidak hanya menunggu acara selamatan saja. Minimal kantor Kecamatan, kantor Pemkab Sidoarjo bahkan Pemprov Jatim menjadikan kue Pleret menjadi sajian menu dalam rapat-rapat di kntornya,” paparnya.

Zulkhair akan melaunching UKM Pleret bersama Kepala Desa dan pihak ketiga melalui CSR. Dalam rangka mengembangkan ekonomi warga.

Salah satu keluarga yang masih bertahan memproduksi jajanan legendaris ini adalah keluarga Munawar atau lebih akrab dikenal dengan Pak Nawar.

Keluarga ini dikenal sebagai pembuat Pleret secara turun temurun. Jajanan ini dibuat dari bahan dasar tepung ketan, dibentuk dalam bulatan-bulatan kecil meyerupai kuping.

Sekilas kue Pleret mirip kue puthu tapi halus. Tekstur kuenya juga lembut. Namun bisa dibuat warna warni khas. Kue ini dibuat secara tradisional dengan cetakan yang terbuat dari bambu.

“Biasanya Pleret ini jadi suguhan khusus saat pindahan rumah, keluarga melahirkan atau mantenan. Karena tujuan khusus ini, keluarga kami setia menjadi perajin jajanan Pleret,” ujar pembuat kue Pleret di Kampung Wadang, Mujiati.

Saat ini Mujiati sudah punya penerus pembuat kue ini, yakni putrinya yag masih kuliah, yakni Elok Uswatun Hasanah.

Gadis ini biasa membuat Pleret untuk dijual di kampusnya di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

“Banyak temen-temen kampus kaget dengan nama Pleret. Saya jual kemasan plastik kotak kecil Rp3 ribu, laris manis karena khas,” ucapnya.

Sementara Kepala Desa Tempel, Ainul Yaqin mengakui Kampung Wadang dikenal dengan jajanan khas Pleretnya.

“Banyak warga dari kampung-kampung lain yang memesan Pleret di Kampung Wadang. Kami ingin sekali warga kami tetap melestarikan membuat Pleret, sebab ini sangat khas,” harapnya.

Seorang pelanggan kue Pleret yang juga karyawati sebuah perusahaan tol, Rani, mengaku suka kue Pleret karena namanya yang unik. Awalnya penasaran kemudian menjadi ketagihan karena rasanya yang gurih dan manis, manis khas yang tidak bikin bosan.

Selain itu bentuknya yang jadul membuatnya semakin suka. “Tapi ada baiknya dibikin kecil-kecil biar bisa buat camilan. Selama ini Pleret ini jajannya kebesaran,” paparnya. (Adv)

Anda mungkin juga berminat