Inilah Perbedaan PPP Di Era Rhoma  Dengan Rommy

151

JAKARTA, (Garudanews.id) – Kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy alias Rommy dan pejabat Kanwil Kemenag Jatim atas dugaan suap jual beli jabatan mendapat tanggapan serius dari mantan senior PPP Rhoma Irama.

Hal itu terungkap dalam program talkshow ILC TV One Selasa (19/3), lalu. Meski pada acara tersebut tidak dihadiri Rocky Gerung, talkshow yang digawangi Karni Ilyas berlangsung menarik dan mengungkap fakta-fakta baru.

Termasuk perdebatan seru loyalis Presiden Jokowi Nusron Wahid dan loyalis Prabowo Subianto Fadli Zon. Hadir dalam acara itu, Pakar tata negara Mahfud MD, budayawan Ridwan Saidi, Razman Nasution, akademisi Prof Mudjia Rahardjo, serta Jubir KPK Febri Diansyah.

Presiden ILC TV One Karni Ilyas memberi waktu Rhoma Irama bicara terkait tema OTT Romy, Ketua Umum PPP: Pukulan Bagi Kubu 01?”

“Sebagai penyanyi dangdut legendaris Bang Rhoma Irama juga seniornya PPP,” kata Karni Ilyas.

“Kalau yang bersalah ini rakyat biasa atau tokoh yang tidak ada interest dengan publik dan negara saya kira itu adalah hal biasa. Bisa dikatakan itu watak manusia, biasa salah dan lupa,” kata Rhoma Irama.

Tapi yang ditangkap KPK adalah sosok tokoh partai politik bahkan ini politik yang berasas Islam bersimbol Kahbah kiblat umat Islam di Dunia ini sangat menyakitkan,” ujar Rhoma Irama.

Rhoma Irama menceritakan kiprahnya di PPP sejak 1977. “Saya bilang saya mau numpang jihad di PPP. Saat itu ada tiga pertaruhan ideologi: Islam, Komunisme dan Nasionalisme Sekuler. Saya memilih Islam itu sebagai perjuangan politik,” ujar Rhoma Irama mengenang masa-masa indahnya di PPP.

Rhoma memuji Ridwan Saidi salah satu tokoh PPP sebagai macan podium dan mengisahkan totalitasnya berpartai. “PPP saya sampai berkorban harta bahkan jiwa saya siapkan untuk membela PPP.77-82 karier pun saya korbankan demi partai ini,” kata Rhoma Irama disambut aplaus pemirsa di studio TV One.

Rhoma Irama menceritakan pengalaman traumanya ketika Ketua Umum PPP terdahulu Suryadharma Ali didakwa korupsi dana penyelenggaraan haji dan terbukti bersalah. “Ketika SDA melakukan korupsi saya datang ke Sukamiskin klarifikasi. Hal ini sangat menyakitkan, berapa banyak yang telah mengorbankan harta jiwa untuk partai ini. Saat itu kampanye sangat keras bahkan jiwa taruhannya.

“Saya termasuk orang yang sangat merasa apa namanya…ada simbol Islam di sana kalau partai lain yang korupsi ya…Tapi ini ada simbol Kahbah, sangat menyakiti perasaan umat Islam. Oleh karena itu saya dan tentunya para ulama yang berijtihad dan beristikharah membuat simbol ini, saya rasa arwah mereka tidak rela. Oleh karena itu ke depan mohon teman-teman saudaraku di partai-partai Islam terutama bersimbol Islam itu bahwa di pundak Anda ada nama baitullah,” kata Rhoma.

Rhoma Irama meminta politisi yang mempermainkan simbol-simbol agama dan korupsi untuk taubat nasuha (taubat bersungguh-sungguh).

Di balik cerita Rhoma Irama terkait sepak terjangnya di masa lalau saat bergabung dengan PPP, yang mengorbankan harta dan jiwanya demi kepentingan partai, namun kondisi ini rupanya berbeda dengan era PPP di bawah kepemimpinan Rommy yang dulu merupakan pembantu Suryadharma Ali.

Inilah fakta yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber terkait dengan sepak terjang Rommy di partai yang berasaskan islam tersebut.

Sebagai politisi muda, karir politik Rommy tergolong moncer. Romahurmuziy atau akrab disapa Romy lahir di Sleman, 10 September 1974 silam. Ia merupakan anak dari keluarga yang kental dengan kalangan Nahdlatul Ulama.

Sang ayah M Tochah Mansoer merupakan pendiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Sementara sang Ibunda Umroh Machfudzoh pernah menjabat sebagai Ketua DPW PPP Yogyakarta periode 1985-1995 serta Ketua Umum PP Wanita Persatuan periode 1993-1998.

Secara silsilah, Romahurmuziy merupakan cucu dari Menteri Agama kesembilan, yakni KH M Wahib Wahab. Selain itu Romahurmuziy adalah cicit dari Kiai Wahab Hasbullah, salah satu pendiri NU.

Namun sayang, ditengah karir politiknya yang sedang menanjak Rommy harus berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui operasi tangkap tangan (OTT) atas dugaan suap jual beli jabatan di Kementerian Agama.

Romahurmuziy menjadi Ketua Umum PPP kedua yang terjerat masalah hukum di KPK. Pendahulunya, Suryadharma Ali, juga dijerat oleh KPK pada 2014 silam karena tersangkut kasus korupsi dana haji saat menjabat Menteri Agama di kabinet Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono.

Sosok Romy di kancah perpolitikan nasional dinilai sangat fenomenal. Usia tergolong muda, tapi ia berhasil menyingkirkan sederet rival politiknya di internal partai  berlambang Ka’bah tersebut.

Berikut langkah Romy yang mengundang kontroversi, berhasil dirangkum:

1. Memecat Suryadharma Ali dari  Ketum PPP

Setelah bertengger menduduki kursi empuk PPP melalui Munas di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Rommy seperti kacang lupa kulitnnya. Sejumlah senior di partainya ia singkirkan. Bahkan orang yang berjasa membimbingnya, seperti Suryadharma Ali harus ia pecat.

Sontak saja pemecatan Suryadharma Ali mendapatkan reaksi. Bahkan mantan Menag iti menuding kesalahan yang telah dilakukan M Romahurmuziy terhadap dirinya sudah banyak. Ia menegaskan, tak ada jalan damai dengan Romahurmuziy alias Rommy.

“Kesalahannya sudah menumpuk, mulai memecat saya, sampai melawan Majelis Syariah dan Mahkamah Partai. Sudah tidak ada islah lagi dan justru harus dilawan,” kata Suryadharma saat dihubungi wartawan, Kamis (16/10/2014) silam.

2. Menuding Pengikut Djan Faridz Hanya Numpang Hidup di Partai

Usai mengalami konflik dualisme kepemimpinan selama empat tahun, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy mengklaim kisruh internal partainya sudah selesai.

Rommy, sapaan akrabnya, menyampaikan kabar soal ujung konflik internal partainya itu saat harlah PPP ke-46 di Kantor DPP, Jakarta Pusat, Minggu malam (6/1).

“Saya ingin menyampaikan kabar gembira untuk fungsionaris dan simpatisan PPP di seluruh Indonesia. Seluruh persoalan hukum kita selesai, kita sudah menangkan semua komponen gugatan,” kata Rommy saat berorasi politik dihadapan ratusan kader PPP.

Tak hanya itu, Rommy juga menuding para pengikut Djan Faridz telah berkhianat kepada PPP. Pasalnya, kata dia, beberapa nama loyalisnya saat ini telah melompat untuk pindah partai lain. “Tanpa menyebut nama, ini menunjukkan bahwa mereka adalah kader palsu yang selama ini hanya menumpang hidup di PPP,” terangnya.

3. Dukung Ahok-Djarot di Pilkada DKI

Disaat ribuan umat islam melakukan aksi untuk menolak pemimpin penista agama, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di bawah kepemimpinan Romahurmuzy malah memberikan dukungan terhadap pasangan Tjahaja Purnama atau Ahok – Djarot Saiful Hidayat (Ahok – Djarot) pada Pilkada DKI 2017 putaran kedua.

“Kita sudah memastikan. Kita ke pasangan calon nomor dua,” kata Ketua DPW PPP DKI Abdul Aziz kepada wartawan, Kamis (30/3/2017).

Menurut Aziz, acara deklarasi dukungan kepada Ahok – Djarot pada Minggu 25 Maret lalu di hotel kawasan Jakarta, tertunda karena masalah teknis. Bukan karena ada DPC PPP DKI yang menolak. “Ini sudah resmi. Kemarin itu masalah teknis saja,” ujar dia.

4. Memecat Haji Hulung dari Kepengurusan PPP DKI

Rupanya, ambisi kekuasaan Rommy tak terbendung, setelah menyingkirkan orang yang dianggap merintangi perjalanan karirnya, giliran Rommy memecat Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana alias Haji Lulung.

Namun dengan santai Haji Lulung menyikapi pemecatan dirinya oleh Rommy,  ia tak ambil pusing soal pemecatannya dari Ketua DPD PPP DKI Jakarta oleh Romahurmuziy

“Romy itu termasuk orang-orang yang zalim untuk bisa memecat. Romy pakai pasal tidak sabar di mana pada 15 Oktober melakukan Muktamar di Surabaya,” ujar Lulung di ruang kerjanya Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (10/11/2014).

Dikatakannya,  menabrak aturan main yang tertuang dalam AD/ART PPP.

“Dia sudah nabrak anggaran rumah tangga PPP. Lalu menulis surat pada Menkum HAM untuk menggantikan pengurus lama pada 17 Oktober. Di waktu yang sama, Pak Suryadharma Ali juga mengirim surat agar Muktamar di Surabaya jangan disahkan. Dibacanya surat Romy saja. Ini saya katakan diskriminasi dan arogansi di pemerintah,” kata Lulung.

5. Masuk ke Kamar Ulama Kharismatik, Minta KH Maimoen Zubair untuk Klarifikasi Doa

Doa KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen masih menjadi perbincangan ramai di masyarakat. Hal itu karena dia salah ucap mendoakan capres nomor urut 02, Prabowo Subianto menjadi presiden. Padahal, maksud Mbah Moen adalah mendoakan capres nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden lagi.

Tak mau doa Mbah Moen disalahartikan banyak orang, Ketua Umum PPP, Romahurmuziy atau Romi akhirnya mendatangi Mbah Moen di kamar pribadinya, Jumat petang (1/2/2019).

Romi tak sendirian. Ia datang bersama Presiden Jokowi yang juga capres nomor urut 01. Romi dan Jokowi masuk ke kamar Mbah Moen untuk mengingatkan bahwa ulama kharismatik itu salah ucap saat memanjatkan doa.

Akhirnya Mbah Moen mempertegas bahwa dia mendukung Jokowi. Ia juga meminta kepada para santri untuk mendukung capres petahana. Cucu Mbah Moen, Rojih Ubab Maimoen mengatakan, seharusnya masyarakat melihat utuh doa yang diucapkan kakeknya, supaya tidak terjadi salah paham. Dia menegaskan, sebetulnya doa tersebut ditujukan kepada Jokowi.

“Tidak harus menjadi polemik jika semua orang melihat secara utuh doa yang disampaikan Mbah Moen,” ujar Gus Rojih sapaan akrabnya, melalui keterangan tertulis, Sabtu (2/2).

6. Minta Ustadz Aa Gym dan UAS Netral di Pilpres

Begitu ngototnya Rommy dalam mendukung paslon capres nomor 01 Jokowi-Ma’ruf, hingga ketika ada tokoh yang dianggap memiliki kecenderungan ke paslon lain, Rommy begitu agresif.

Seperti pendakwah Abdullah Gymnastiar atau yang kerap disapa Aa Gym dan Ustadz Abdul Somad diminta netral kalau tidak mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Atas pernyataan Rommy, Ustadz Aa Gyim pun menyatakan pernyataan sikapnya soal netralitas di pemilu serentak ini.

Hal ini diungkapkan oleh Aa Gym melalui channel YouTube miliknya, Aagym Official, Sabtu (9/3/2019).

Selain menjawab tudingan dirinya, Aa Gym juga menjawab tudingan yang sama yang ditujukan ke Ustaz Abdul Somad (UAS).

“Dari kemarin saya mendapatkan broadcast tentang pernyataan Pak Romi, dan barusan juga dapat videonya, tapi saya belum tabayyun (mencari kejelasan),” ujar Aa Gym.

Dalam pernyataan, Romi mengatakan pada UAS sebagai ulama jika tidak bergabung dengan kubu di Pilpres, agar diminta untuk netral saja.

“Pak Romi dari pimpinan salah satu partai islam itu mendekati UAS bahwa kalau tidak bergabung maka bersikap netral, dan sudah pernah mendekati Aa (Aa Gym), berbicara dengan Aa Gym supaya bisa netral dalam pemilu, kalau tidak gabung netral lah, dan sekarang katanya Aa Gym sudah berubah di postingan-nya,” ujar Aa Gym menirukan pernyataan Romi. “Satu saya belum bertabayyun pada Beliau, apakah Beliau berkata ini atau tidak, semoga Beliau tidak berkata begitu, karena kalau berkata begitu berarti bohong,” tambahnya.  (Edr)

Anda mungkin juga berminat