Sadis, Kakak Beradik Ini Jadi Budak Pelampiasan Seks Kakek Berusia 70 Tahun

811

KUPANG (Garudanews.id) – Siswi SMA berinisial SM, warga Pantai Beringin, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, NTT menjadi korban pelampiasan seks oleh kakek berusia 70 tahun berinisial (ZA) Aksi bejat ZA tersebut terkuak setelah SM dinyatakan hamil delapan bulan.

Sadisnya, ternyata bukan hanya SM yang menjadi korban pelanpiasan seks pengusaha tambak garam itu. Tetapi adik korban juga dengan berinisial F yang masih duduk di SMP juga dipaksa dicabuli  oleh ZA.

Cerita pilu siswi SMP menggantikan sang kakak jadi budak seks kakek bejat yang tidak lain adalah paman korban, CP mengatakan kasus tersebut sudah dilaporkan ke Polres Kupang, tetapi hingga kini belum ada tindak lanjut dari pihak kepolisan.

Keluarga merasa sakit hati, melihat ZA masih bebas berkeliaran. Karena berlarutnya kasus tersebut, kuasa hukum korban akhirnya mendatangi Polda NTT, Kamis, 927/6) untuk meminta agar kasus ini segera diambil alih oleh Polda NTT karena mereka menduga ada “permaianan” yang dilakukan penyidik Polres Kupang.

Menanggapi hal itu, Kapolres Kupang, AKBP Indra Gunawan mengaku kasus tersebut masih pada tahap penyelidikan (lidik). Ia mengatakan, polisi sudah memeriksa korban serta saksi yakni, orangtua korban, kakak serta adik korban termasuk terlapor, ZA. Dari hasil pemeriksaan, kata dia, tidak ada keterangan saksi yang mendukung keterangan korban.

“Saat ini baru keterangan korban sehingga baru satu alat bukti. Korban sekarang dalam keadaan hamil sehingga kita tunggu melahirkan baru uji DNA,” ujar Indra kepada garudanews.id kamis (4/7).

Ia juga membantah jika Polres Kupang disebut-sebut menitipkan korban budak seks kakek ZA di panti rehabilitasi. “Korban dititipkan oleh aktivis Rumah Perempuan, bukan Polres Kupang. Jadi, sesuai SOP di panti, jika mau mengunjungi korban harus sepengetahuan Rumah Perempuan,” katanya.

Pernyataan Kapolres Kupang ini langsung ditanggapi kuasa hukum korban, Dedy Jahapay. Menurut Dedy, banyak saksi yang disebutkan oleh korban tetapi tidak pernah diambil keterangan oleh polisi. “Salah satu tante korban, tidak diperiksa oleh polisi,” ujar Dedy kepada garudanews.id  (4/7).

Sebagai kuasa hukum, ia mengaku masih kesulitan bertemu korban di panti rehabilitasi. Awalnya, pihak panti beralasan harus ada izin dari Polres Kupang. Setelah terjadi perdebatan, kata dia, pihak panti baru memberi izin.

“Semula petugas bilang harus ada izin dari polres. Saya tanya balik, dalam bentuk apa, mereka jawab rujukan. Saya tanya lagi, apa dalam rujukan itu ada poin yang menyatakan jika mau bertemu korban harus minta izin Polres? Petugas diam tidak jawab, katanya mereka hanya jalankan perintah pimpinan,” dia menegaskan.

Ia meminta agar Polda NTT mengambil tindakan hukum dan segera memeriksa penyidik Polres Kupang yang menangani perkara ini.

“Laporan korban tidak ditindaklanjuti, ini ada apa? Korban ini anak di bawah umur, ” Ungkap Dedy. (Dance Henukh)

Anda mungkin juga berminat