Ketua GP Ansor Tanggapi Desakan Pembubaran Banser

266

JAKARTA (Garudanews.id) – Hingga Minggu malam, terpantau masih ramai di dunia maya soal tuntutan pembubaran Banser. Banser adalah Barisan Ansor serbaguna, organ taktis dari badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yakni Gerakan pemuda Ansor. Hingga pukul 23.42 tagar tersebut menjadi tagar terpopuler di linimasa twitter.

Ramainya tagar tersebut berawal dari pernyataan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Papua, Yorris Raweyai, yang menyampaikan adanya tuntutan masyarakat Sorong yang meminta Banser dibubarkan. Yorris menyampaikan tuntutan itu setelah berkunjung langsung ke Sorong untuk meredam suasana.

“Pemerintah harus segera bubarkan ormas Banser dari negara Republik Indonesia,” demikian salah satu tuntutan masyarakat Sorong yang disampaikan Yorris, Minggu (25/8).

Menanggapi soal pembubaran organ taktis dari badan otonom NU itu,  Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Nahdlatul Ulama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan tuntutan pembubaran Banser NU yang muncul dari Sorong, Papua Barat, bukan murni keinginan masyarakat setempat.

“Kami tahu siapa yang sedang bermain. Pernyataan pembubaran Banser itu tidak mewakili perasaan masyarakat Sorong pada umumnya,” kata Gus Yaqut, sapaan akrabnya, Minggu (25/8).

Dia menanggapi kabar tuntutan pembubaran Banser NU yang disuarakan masyarakat Sorong seperti yang diungkapkan Yorrys Raweyai. Dia politikus Golkar dan anggota DPD Terpilih dari Papua Barat.

Yaqut membantah Banser NU terlibat pengerebekan dan tindakan rasialis di asrama mahasiswa Papua di Surabaya pada Jumat pekan lalu, 16 Agustus 2019.

Menurut Yaqut, warga NU termasuk Ansor Banser bersahabat dengan masyarakat Papua. Ketika ada ormas yang mengepung asrama mahasiswa Papua justru Banser menjaga asrama tersebut.

Dia menceritakan, sebelum kejadian di Surabaya ada pihak yang menghubungi Komandan Banser Jawa Timur untuk mengajak mengepung asrama mahasiswa Papua, Jalan Kalasan, Surabaya.

Banser NU dibisiki bahwa terjadi pengrusakan dan pembakaran Bendera Merah Putihdi asrama itu. “Kawan-kawan Banser menolak karena harus cek dulu dan mengklarifikasi berita tersebut,” ucap Yaqut.

Gus Yaqut menegaskan bahwa saat ini dia terus berkomunikasi dengan tokoh masyarakat Papua dan Papua Barat untuk meredakan tensi. (Red)

Anda mungkin juga berminat