Pernyataan Wiranto Dinilai Lukai Masyarakat Maluku

Soal Korban Gempa Jadi Beben Pemerintah

278

JAKARTA (Garudanews.id) – Belum lama ini masyarakat Maluku dihadapkan dengan peristiwa gempa yang berkekuatan magnitudo 6,8 yang meluluh lantakan hampir sebagian besar pemukiman warga dan mengakibatkan jumlah korban meninggal yang sampai saat ini di beritakan lebih dari 33 korban meninggal dan ratusan orang menderita luka-luka.

Tak ayal negara hadir dalam derita masyarakat Maluku untuk memberikan perasaan duka atas korban meninggal dan luka-luka sebagai bentuk perhatian akan tetapi keluar dari pernyataan Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto yang melukai perasaan orang Maluku bahwa “Korban gempa Maluku menambah beban keuangan negara”.

Menanggapi pernyataan Wiranto, tokoh muda Maluku yang juga direktur eksekutif Progress Indonesia Idrus Mony mengaku geram dengan pernyataan mantan Panglima ABRI era Soeharto itu.

“Sebagai pejabat negara rasa-rasanya tidak etis Wiranto menyampaikan pernyataan yang sangat melukai hati dan pikiran orang Maluku. Pernyataan ini sangat menyinggung perasaan orang Maluku dan berpotensi menimbulkan disharmoni yang selama ini terbangun dengan baik antara pusat dan daerah,” ujar Idrus kepada wartawan di Jakarta, Kamis (3/10).

Idrus mengatakan, tugas negara untuk mensejahterakan warganya, orang maluku juga tidak menginginkan adanya gempa di wilayahnya. Namun ini bagian dari musibah yang dialami masyarakat Maluku.

“Ada aksioma politik yang berkembang di negeri ini bahwa kita lebih cenderung menajamkan konflik daripada mencari suatu konsensus. Gaya berfikir seperti inilah yang memunculkan letupan-letupan emosi masyarakat,” kata Idrus.

Pertanyaannya kemudian bahwa apakah rezim ini memang peduli kepada kesejahteraan masyarakat?

“Jawabannya adalah tinggal anda melihat sendiri bahwa betapa diskriminasinya negara kepada orang maluku. Maluku adalah bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia baik secara Defacto maupun Defacto maupun Dejury,” imbuh Idrus.

Untuk itu, pihaknya mengimbau agar Wiranto tidak memantik kerukunan dan keharmonisan masyarakat Maluku untuk berfikir terbalik bahwa memang warga Maluku adalah warga yang dimarjinalkan oleh negara.

“Sebagai orang Maluku saya sangat menyayangkan pernyataan Wiranto dan apa yang disampaikan oleh Wiranto adalah merepresentasi dari Negara,” tambah Idrus geram.

Untuk itu pihaknya menghmbau kepada Wiranto untuk meminta maaf kepada orang Maluku atas pernyataan yang sangat melukai hati orang Maluku dan disampaikan secara terbuka atas nama negara terhadap masyarakat Maluku untuk menghindari potensi perpecahan, potensi konflik yang selalu menimpa orang Maluku.

“Jangan jadikan hal ini sebagai sesuatu yang dimaklumi karena sesungguhnya Negara ini ada karena perjuangan tokoh-tokoh daerah-daerah nusantara,” ucap Idrus.

Sementara itu, Walikota Ambon Richard Louhenapessy mengaku malu setelah membaca pernyataan yang disampaikan Menko Polhukam Wiranto terkait gempa di Ambon.

Dalam berita yang dimuat pada salah satu media online di Jakarta, Wiranto meminta masyarakat Ambon untuk kembali ke rumah masing-masing karena situasi sudah aman dan pemerintah harus menanggung kehidupan mereka di pengungsian.

“Diharapkan masyarakat bisa kembali ke tempat tinggal masing-masing untuk mengurangi besaran pengungsi, pengungsi terlalu besar ini sudah menjadi beban pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,” kata Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Senin (30/9).

Menanggapi hal tersebut, Walikota Ambon kemudian mengungkapkan kekecewaannya atas pernyataan Wiranto itu. Menurutnya, banyak pengungsi yang berada di lokasi pengungsian bukan mereka yang terkena dampak bencana gempa bumi tetapi akibat trauma dan ketakutan akan terjadi tsunami.

“Selaku Walikota, saya merasa malu. Karena memang pemerintah pusat itu memberikan perhatian bahwa ternyata pungungsi yang banyak dan ada itu bukan karena dampak dari pada gempa secara langsung tapi ini karena ketakutan dan trauma,” ungkap Richard kepada wartawan, Selasa (1/10).

Pernyataan Wiranto, kata Walikota sangat halus namun maknanya sangat menusuk. Untuk itu, Walikota berharap masyarakat yang masih di tempat pengungsian di sekitar Kota Ambon kembali pulang ke rumah.

Pihaknya akan segera melakukan rapat bersama dengan pejabat pemerintahan di tingkat RT, RW, lurah, pemerintah desa/negeri, tokoh agama supaya memberikan pemahaman kepada masyarakat tidak perlu khawatir adanya bencana tsunami seperti yang beredar di media sosial.

“Itu sangat halus kata-katanya tapi sangat menusuk. Para pengungsi Ambon yang karena takut marilah kembali ke rumah masing-masing dan jangan bebankan pemerintah dengan biaya-biaya pengungsi. Itu kan halus tapi sangat menyakiti. Oleh karena itu, saya juga sudah menghimbau kemana-mama,” jelasnya. (red)

 

 

Anda mungkin juga berminat