Rumah Sakit Jiwa di Solo Tangani Pasien Kecanduan Game Online

277

SOLO (Garudanews.id) – Kecanduan game online ternyata berakibat fatal terhadap seseorang yang gemar menggunakannya. Hal itu terungkap setelah Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr Arif Zainudin Kota Surakarta tengah menangani pasien anak kecanduan game online yang menjalani pengobatan rata-rata dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga SMA kelas I.

Rumah sakit yang berada di Jalan Ki Hajar Dewantara Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah juga menangani pasien anak dengan Penanganan itu telah dilakukan oleh rumah sakit milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah sejak tiga tahun terakhir.

“Akhir-akhir ini ada peningkatan (pasien anak kecanduan game online). Meskipun kadang datang tidak ada keluhan dengan kecanduan game, tidak. Ada yang tidak mau sekolah, tidak mau makan. Pada akhirnya disebabkan karena game itu,” kata Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJD Dr Arif Zainudin Kota Surakarta Aliyah Himawati di Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/10).

Menurut Aliyah jumlah pasien anak kecanduan game online akhir-akhir ini meningkat. Jika sebelumnya sepekan hanya satu pasien, kini hampir setiap hari ada satu hingga dua pasien yang datang. Pada tahun ajaran baru kemarin, katanya ada sekitar 35 anak dengan kecanduan game online yang menjalani pengobatan di RSJD Kota Surakarta.

Mereka rata-rata kecanduan game online ekstrem. Bahkan, dari jumlah itu dua di antaranya harus menjalani rawat inap di RSJD Kota Surakarta. Sedang sisanya menjalani rawat jalan.

“Yang rawat inap kemarin ada dua anak. Kelas 3 SMP dan satunya kelas I SMA. Tapi, sekarang sudah tidak ada. Mereka baru pulang Minggu kemarin,” terangnya.

Penanganan pasien anak kecanduan game online disesuaikan dengan gejala yang muncul. Sebab, tidak semua pasien anak gejalanya sama.

Biasanya gejala pertama kali muncul adalah gangguan emosi. Seperti marah-marah, tidak bisa tidur, tidak mau makan dan lainnya.

“Ada beberapa langkah yang kita lakukan untuk mengatasi gangguan emosi. Salah satunya dengan obat, dengan farmakoterapi,” tuturnya.

Setelah itu, dilanjutkan dengan terapi perilaku. Sebab, pasien anak kecanduan game online, biasanya tidak mengakui kalau dirinya kecanduan. Mereka menganggap dirinya baik-baik saja.

“Jadi, kita harus menekankan anak itu mengakui kalau dirinya itu kecanduan game online. Itu sebuah proses sehingga kita bisa masuk ke terapinya,” kata dia.

Terapi tersebut dilakukan tidak hanya sekali. Tetapi berkelanjutan atau terus menerus. Paling tidak dilakukan setiap hari selama dua pekan.

“Minggu pertama bisa kita terapi perilaku. Dan itu berlanjut paling tidak enam bulan. Idealnya seperti itu,” ungkap dia.

Aliyah menyebut anak kecanduan game dapat diketahui dengan ciri-ciri setiap hari selalu memegang ponsel, tidak bisa melaksanakan tugasnya, suka membolos sekolah, tidak mau sekolah, tidak mau belajar, dan mudah emosi.

Dilansir dari kompas.com, penggunaan gadget atau ponsel tidak bisa dibatasi. Sebab, dalam aktivitas apapun pasti menggunakan ponsel. Tapi, bukan berarti penggunaan ponsel terhadap anak tidak bisa dicegah.

Agar anak tidak kecanduan game, seharusnya penggunaan ponsel hanya untuk kegiatan tertentu. Misalnya mengerjakan tugas sekolah.

Selain itu, pada jam tertentu jika ada satu anggota keluarga tidak menggunakan ponsel, semua juga tidak menggunakannya. (Red)

 

Anda mungkin juga berminat