Presiden Jokowi Dinilai Tak Berani Ungkap Pelaku Kasus Penyiraman Novel

248

JAKARTA (Garudanews.id) – Penggiat Hak Azasi Manusia, Haris Azhar menilai era Pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak berani  mengukap kasus penyiraman air keras kepada penyelidik senior KPK Novel Baswedan.

“Sebenarnya kasus ini sudah terang benderang. Malahan, berdasarkan termuan dari masyarakat sipil pelaku dan otak utama kejahatan ini sudah diketahui,” ucap Haris kepada wartawan, Minggu (10/11).

Namun sayangnya, lanjut Haris hingga saat ini belum juga diungkapkan karena diduga kasus ini melibatkan pejabat tinggi.

“Memang temuannya orang yang sangat tinggi terlibat, jadi Jokowi saya pikir tidak berani,” kata dia.

Haris juga mengatakan bahwa Joko Widodo memiliki cara agar kasus ini tidak selesai di periodenya, salah satu cara yang dilakukan, menurut Haris dengan memperpanjang masa kerja tim kepolisian dalam kasus Novel.

Dia sendiri mempertanyakan kredibilitas para juru bicara presiden yang semestinya juga punya itikad baik dalam menyelesaikan kasus ini. “Kalau juru bicaranya tidak bisa ngomong, biar saya yang ngomong,” kata Haris.

Yang menjadi ironis dalam kasus ini yaitu, Novel yang merupakan korban kejahatan kini malah dilaporkan oleh politisi PDIP

Dewi Ambarwati atau akrab disapa Dewi Tanjung melaporkan penyidik KPK Novel Baswedan ke Polda Metro Jaya terkait penyebaran berita bohong soal sakit yang diderita. Dewi melaporkan itu karena “menuding” kejadian penyiraman air keras ke Novel hanya rekayasa belaka.

Politikus PDIP itu berdalih, beberapa hal yang janggal dari penyiraman air keras Novel, antara lain dari hasil rekaman CCTV, bentuk luka, kepala yang diperban, tapi malah mata Novel yang buta.

Novi melaporkan Novel  ke Polda Metro Jaya tertuang dalam berkas nomor LP/7171/XI/2019/PMJ/Dit. Krimsus. Dewi melaporkan Novel dengan Pasal 26 ayat (2) junto Pasal 45 A Ayat (2) UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 14 A ayat 1 UU RI nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana. (Red)

Anda mungkin juga berminat