Kasus Harley Davidson,  Pengamat: Ari Askhara Diduga Sengaja Dihabisi

2.937

JAKARTA (Garudanews.id) – Polemik tentang ‘skandal’ Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Ari Askhara, yang dituding melakukan penyelundupan motor Harley Davidson, mendapatkan tanggapan bergam dari sejumlah pihak. Pengamat politik Irwan Suhanto, menilai peristiwa skalndal di perusahaan plat merah tersebut penuh misteri dan banyak kejanggalan, hal itu kata Irwan belum banyak diketahui publik.

Bahkan, irwan menduga ada upaya dari sekelompok orang yang ingin menghabisi karir Ari Askhara Sehingga kasus penyelundupan motor Harley Davidson merupakan perangkap buat Ari yang sengaja dilakukan oleh orang yang ingin menggeser posisi di persuhaan bergengsi tersebut.

“Sejak mengetahui peristiwa ini lewat media, saya mempelajari kepingan kronologis yang saya dapatkan dari media massa. Saya merasa apa yang menimpa Ari Askhara ini janggal, ganjil.  Karena itu saya tidak serta merta mempercayai apa yang diberitakan media,” ungkap Irwan dalam keterangan tertulisnya yang diterima garudanews.id, Senin (9/10/2019).

Irwan mempertanyakan soal peristiwa  (Harley Davidson di Bandara) terjadi pada pertengahan November, tapi kenapa baru Desember kasus tersebut mencuat di media. Menurut dia, kalau saja itu benar penyelundupan, harusnya langsung dilakukan tangkap tangan. Apalagi, berdasarkan informasi yang berkembang bahwa pihak Bea Cukai sendiri mengetahuinya.

“Lagipula, mana ada penyelundupan barang mewah si pemiliknya ikut serta disitu, seperti tidak mampu bayar kurir saja. Ada interfal waktu yang tidak sebentar, sejak Harley itu sampai ke Indonesia sampai kemunculannya di media massa,” beber Irwan.

Mantan aktivis 98 ini mengungkapkan, sejak terbentuknya pemerintahan baru Jokowi di periode kedua ini, yang kemudian terbentuk pula Kabinet Indonesia Maju (KIM). Beberapa pos menteri bergeser atau juga berganti, salahsatunya Kementerian BUMN.

Banyak pihak, awalnya meyakini Rini Soemarno tetap memimpin kementerian ini, tapi ternyata justru digantikan, oleh seorang pendatang baru dunia politik yang kebetulan ketua tim pemenangan pasangan Jokowi-Makruf, Erick Thohir.

“Masuknya Erick menandakan terjadinya sebuah pergantian rezim di Kementerian BUMN. Salahsatu yang juga lazim dalam sebuah pergantian rezim adalah pembersihan orang-orang yang dianggap bagian dari rezim lama. Ari ini kan dipandang sebagai ‘orangnya Rini’, jadi penyingkiran dirinya menjadi konsekuensi logis,” jelas Irwan.

Menurut Irwan, kasus skandal “Harley Davidson” bukan hanya dijadikan persoalannya bersih-bersih orang rezim lama, tapi juga sang pemegang kuasa baru di kementerian terkait perlu sebuah ‘ledakan popularitas’.

“Sebagai seorang yang menggantikan posisi menteri yang lumayan kontroversial seperti Rini, diperlukan momentum-momentum yang istimewa. Ini semacam bejana berhubungan, agar naik maka diperlukan tekanan. Untuk popularitas naik diperlukan pihak yang ditekan, diinjak,” imbuh Irwan.

Irwan mengatakan, Dirut BUMN, seperti halnya Garuda, adalah jabatan politik. Dalam politik, ketersingkiran seorang direktur utama perusahaan negara harus dianalisa secara konspiratif, sama seperti ketika Ari muncul dipilih untuk memimpin.

“Memang bisa saja Ari Askara dicopot seperti biasa, tapi atas alasan apa? Garuda tidak merugi, dalam kasus dengan PT Sriwijaya Air, Ari tegas bersikap ingin tetap mengelola Sriwijaya hanya demi mengamankan uang negara yang menjadi piutang Sriwijaya Air kepada Garuda,” tandas Irwan.

Saat itu, lanjut Irwan, Rini mendukung langkah Ari, walaupun Irwan mengaku tidak sependapat dengan Menteri Perhubungan karena justru bersikap sebaliknya kepada Garuda.

“Karena tidak ada alasan formal yang biasa itulah maka Ari bisa saja dicari-cari kesalahannya. Disamping tentunya sang Menteri BUMN juga memerlukan ‘ledakan’ untuk meluncurkannya keatas,” terang Irwan.

Jika  diteliti keping demi keping peristiwa tersebut,  maka kata irwan, analisa itu akan sangat rasional. Karena lanjut Irwan, jika memang terjadi penyelundupan, kenapa Bea Cukai tidak meringkus Ari ditempat?

“Kenapa baru berkoar setengah bulan kemudian. Ini tidak benar,” tambah dia.

Bahkan Irwan menyontohkan dari sejumlah kasus penyelundupan yang berhasil diungkap Bea Cukai, si pemilik barang biasanya hanya menugaskan kurir, bukan langsung ikut sert menggondol barangnya. Karena itu sanat konyol.

“Apalagi Ari itu Dirut Garuda, apa iya dia seceroboh,” tanya Irwan.

Irwn juga mempertanyakan pihak Bea Cukai, kenapa saat barang tersebut datang, diam saja, akan tetapi setengah bulan kemudian, Menteri Keuangan malah melakukan konferensi pers dan menyatakan telah terjadi tindak penyelundupan.

“Saya katakan bisa saja, bukan pasti dijebak. Tetapi yang mendasari perkataan itu selain ganjilnya sikap Bea Cukai. Saya tidak melihat Ari diberi kesempatan membela diri, media langsung mendominasi pemberitaan bahwa Ari bersalah, padahal proses apapun saja belum ada. Opini jauh meninggalkan fakta-realita dan proses hukum, pembunuhan karakter terhadap Ari yang dilakukan oleh kelompok tertentu memang sangat dahsyat dengan jarinagan medianya,” ungkap Irwan.

Irwan menambahkan, dalam situasi seperti ini, kemunculan para peselancar yang ikut menenggelamkan Ari lumrah terjadi. Motivasi mereka beragam. Bisa materi atau jabatan, tapi bisa juga merupakan bagian yang satu dengan skenario menghabisi Ari.

“Jadi seakan-akan Ari ini gak ada bagus-bagusnya. Saya beri contoh ya, ketika Sriwijaya Air dipegang pengelolaannya oleh Garuda, karyawan Sriwijaya sejahtera. Mereka memperoleh hak yang setara dengan karyawan Garuda. Kalau kepada karyawan perusahaan swasta yang dikelolanya saja Ari bertanggungjawab, masa iya kepada karyawannya sendiri dia abai, itu mustahil,” tandas Irwan. (Red)

 

Anda mungkin juga berminat