Milad GAM Ke 43 Tahun, Butir-Butir MoU Helsinki Dinilai Masih Buram

723

ACEH UTARA (Garudanews.id) – Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memperingati hari lahirnya (Milad) ke 43 tahun yang dilaksanakan setiap tanggal 4 Desember. Gerakan yang sempat bersitegang dengan pemerintah RI itu kini kembali ke pangkuan NKRI melalui perjanjian Helsinki.

Sudah 14 tahun berjalan pascaperjanjian Helsinki, namun kesepakatan yang ditandatangani oleh pihak GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia, dipertanyakan sejumlah mantan petinggi GAM. Pasalnya banyak poin perjanjian yang dinilai belum dilaksanakan oleh pemerintah RI.

M.Jhonny Selaku Juru Bicara KPA wilayah Pase dan juga Panglima Muda Daerah Peut (D- IV) Tgk Chik di Tunong mengatakan, perdamaian yang sudah terwujud selama 14 tahun lamanya, jangan sampai terkhianati.

“Maka dalam momentum 4 Desember hari ini  kita berharap kepada semua pihak terutama kepada pimpinan GAM dan juga pemerintah Aceh dan pemerintah Indonesia untuk melahirkan apa yang sudah di janjikan,” ujar M.Jhonny, Rabu (4/12).

Dia mengungkapkan, sudah 14 tahun lamanya perjanjian MoU Helsinki antara GAM dan RI terjadi tapi belum semua butir butir MoU yang direalisasikan. Menurut M.Jhonny selama ini pemerintah pusat baru merealisasikan tentang terwujudnya partai lokal, sedangkan yang lain masih buram.

“Saya pikir baru partai lokal itu yang sempurna sedangkan untuk yang lain semua masih buram, tidak ada yang jelas tidak ada yang sempurna,” ucap M.Jhonny.

Pihaknya menduga bahwa tidak ada keikhlasan dari pemerintah pusat dalam kesepakatan perjanjian Helsinki tersebut. Hal ini dinilainya bakal menggangu kesepakatan perdamaian Aceh.

“Kami sebagai pimpinan yang paling bawah, karena selalu dapat desakan dari pada  anak- anak Syuhada anak-anak para Kombantan GAM yang sudah besar hari ini.  Selalu menuntut agar apa yang telah terjadi di Helsinki itu menjadi nyata untuk rakyat Aceh, Maka kita selu mengingatkan,” tegas M.Jhonny.

M.Jhonny mengungkapkan, didalam perjanjian perdamaian MoU Helsinki itu, seharusnya Aceh mempunyai hak untuk memiliki bendera sendiri.

“Kita mau penjelasannya bendera sendiri itu bagaimana,dan macam apa. Saya pikir hari ini wajar kalau semua GAM itu berpatokan kepada bendera Bintang Bulan. Karena Bendera Bintang Bulan Juga sudah dibahas oleh DPRA,” jelasnya.

Dirinya berharap agar perdamaian yang sudah berjalan 14 tahun ini abadi, maka semua hal berkaitan dengan kesejahteraan dan kekhususan Aceh itu harus jelas.

M.Jhonny  mengaku bahwa pihaknya akan terus memperjuangkan kepentingan masyarakat Aceh dan semua yang tertuang dalam MoU Helsinki.

M.Jhonny menambahkan terwujudnya perdamaian GAM dan RI itu bukanlah hal main-main karena ribuan nyawa melayang dan harus dihargai oleh semua pihak.

“Kita tidak akan bisa menerima kalau itu dikhianati kembali seperti hal yang pernah terjadi sebelumnya dan bisa berefek terhadap gagalnya perdamaian Aceh, dan apapun bisa terjadi kalau butir-butir MoU tidak indahkan, jadi kita hanya mengingatkan,” tandasnya.

Pihaknya berharap kepada pemerintah Indonesia agar komitmen yang telah dicapai antara GAM dengan Pemerintah Indonesia secepatnya direalisasikan. Hak itu guna menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

Diketahui, Milad GAM ke-43 itu juga digelar acara doa bersama dan santun kepada anak yatim dipusatkan di Kantor wilayah Partai Aceh (PA) Kecamatan Samudera, dan juga dibeberapa Sagoe di wilayah Pase.

Hadir dalam acara tersebut, Wakil Bupati Aceh Utara, Fauzi Yusuf, Ketua KPA Wilayah Pase , Zulkarnain Bin Hamzah yang juga Ketua Mualimin Aceh, seluruh eks Kombantan GAM, Anak Yatim dan simpatisan. (Syahrul)

Anda mungkin juga berminat