Polda Jateng Bekuk Raja dan Ratu Sejagat

271

JAKARTA (Garudanews.id) – Tim Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jateng bersama Polres Purworejo membengkuk Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat di Purworejo Jawa Tengah karena diduga melakukan pembohongan publik.

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat itu mengklaim telah memiliki pengikut setianya. Saat penangkapan terjadi, sejumlah pengikutnya masih memadati kawasan keraton.

“Tadi saya lihat masih banyak yang di lokasi. Sebagian ada di dalam, lalu di pintu masuk itu ada dua perempuan mengenakan kain jarit, sebagai penerima tamu,” kata seorang warga, Kusri, Selasa (14/1/2020).

Sekretaris FKPPI Purworejo itu melanjutkan, di lokasi mendapat penjagaan aparat dengan pakaian preman. Kendati demikian, para pengikut Keraton Agung Sejagat masih bebas keluar masuk bangunan keraton.

Diketahui Raja Keraton Agung Sejagat, yang diketahui bernama Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya Fanny Aminadia atau Dyah Gitarja, dijerat dengan pasal 14 UU RI No 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

“Kami telah melakukan upaya paksa penangkapan terhadap dua orang pelaku yang di duga melakukan perbuatan melanggar pasal 14 UU RI No 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana,” jelas Budi Haryanto, Selasa (14/1/2020) malam.

“Selain itu, keduanya juga melanggar pasal 378 KUHP tentang penipuan,” tambahnya.

Selain Totok dan istrinya, polisi juga menangkap lima pejabat keraton, di antara adalah pemilik rumah yang dijadikan markas, Chimawan yang berpangkat Resi atau penasihat dan Prasetyawan sebagai maha patih di Keraton Agung Sejagat.

Menurut Budi Haryanto, pihaknya telah memeriksa 10 orang saksi yakni warga Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Bukti-bukti yang disita dari Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat antara lain KTP Totok Santosa dan Fanny Aminadia. Disita pula tombak, pataka kerajaan, lukisan-lukisan dan seragam keraton.

Polisi juga telah memperoleh bukti-bukti dokumen palsu kartu-kartu yang dicetak oleh tersangka untuk melakukan perekrutan anggota Keraton Agung Sejagat.

“Untuk proses hukum, markas mereka kita pasang garis polisi,” tandas Budi.

Dengan demikian, seluruh aktivitas kelompok ini dihentikan.

Kemunculan Keraton Agung Sejagat ini mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan acara wilujengan dan kirab budaya, yang dilaksanakan dari Jumat (10/1/2020) hingga Minggu (12/1/2020).

Totok mengklaim Keraton Agung Sejagat merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhir perjanjian 500 tahun yang lalu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai dengan 2018.

Diketahui, Raja dan Ratu sejagat itu
dijerat dengan pasal 14 UU RI No. 1 Tahun 1946. Dimana, barang siapa menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat di hukum maksimal 10 tahun. (DRA)

Anda mungkin juga berminat