Cegah Penyebaran Covid-19, PKS Kota Bekasi Imbau Umat Islam Sholat Ied di Rumah

145

KOTA BEKASI (Garudanews.id) – Ketua DPD PKS Kota Bekasi, Heri Koswara mengimbau umat Islam melaksanakan sholat Ied di rumah saja. Hal ini demi meminimalisir kemungkinan munculnya kluster baru covid19.

“Kalau PKS pada prinsipnya kita masih tetap mengacu kepada apa yang sudah disampaikan pemerintah. Dalam hal ini pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah kemudian berdasarkan taklimat dan edaran Dewan Syariah PKS pusat. Kalau saya lebih baik, dalam kondisi hari-hari ini tetap melaksanakan sholat ied di rumah sesuai anjuran,” jelas Heri saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (23/5/2020).

Heri memprediksi gelombang kedua kasus Covid19 bisa jadi lebih berbahaya. Saat ini saja data mencatat peningkatan kasus positif covid19 sudah sangat fantastis, mendekati angka 1000 secara nasional.

“Apalagi dibukanya titik-titik kerumunan. Walaupun wali kota sudah menyampaikan banyak zona hijau, namun parameternya lemah,” jelasnya.

Oleh karena itu, sekali lagi Heri mengimbau kepada kader PKS kota Bekasi untuk mengutamakan kehati-hatian. Apalagi salat idul fitri adalah salat sunnah, tidak harus melaksanakannya di lapangan atau masjid.

“Jangan malah menjadi inisiator pelaksanaan salat ied secara terbuka. Karena begini, satu daerah bisa saja diklaim sebagai zona hijau dengan protokoler kesehatan namun kadang-kadang kelemahan kita pada saat pengkondisian di lapangan. Minim kontrol dan tidak ada garansi. Bisa saja malah mendatangkan masalah baru. Sekali lagi karena ini ibadah sunnah dan tren kasus sekarang sedang meningkat, jadi sholat ied bisa dilakukan dilingkup yang lebih kecil, misalnya di rumah,” ujarnya.

Heri sendiri mengaku secara pribadi sudah menyampaikan hal tersebut ke wali kota Bekasi.

“Nah saya juga sudah sampaikan ke Walikota, tapi masyarakat katanya kan sudah jenuh. Padahal nggak apa-apa kan ini sudah berjalan tiga bulan dan kita kuat. kalau tiba-tiba dibuka akan muncul kluster baru. Artinya saya secara pribadi kepada walikota sudah sampaikan. Kalau secara institusi kita sampaikan ke kader juga seperti itu,” terangnya.

Heri menegaskan, virus covid19 ini ada. Orang dengan risiko kesehatan tertentu rentan terkena.

“Jadi kalau dibebaskan kita tidak tahu siapa carrier-nya karena orang datang dari berbagai sudut.
Orang yang imunnya kuat dia akan kuat, kalau orang yang sedang sakit, rentan Kita khawatir terjadi puncak data lagi setelah dua pekan terjadi kerumunan,” ungkapnya.

Kepada umat Islam, Heri mengimbau agar lebih cenderung mendengarkan anjuran para ahli di bidang kesehatan bagaimana mereka melihat fenomena ini.

“Kalau memang kondisi sudah aman, kita bisa optimalkan sunnah. Tapi kalau masih ada keragu-raguan, untuk apa kita kejar yang sunnah,” pungkasnya. (Adi T)

Anda mungkin juga berminat