Stafsus: Ekonomi RI Masih Lebih Baik dari Negara Lain

107

JAKARTA (Garudanews.id) – Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Arif Budimanta mengklaim, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih lebih baik dibandingkan sejumlah negara lainnya yang mengalami kontraksi ekonomi cukup tajam. Meskipun pertumbuhan ekonomi di kuartal II pada tahun ini minus 5,32 persen, kondisi ini juga dialami di seluruh negara lainnya.

Ia mencontohkan, di Uni Eropa yang mengalami kontraksi ekonomi yang lebih tajam hingga minus 14,4 persen, Singapura minus 12,6 persen, Amerika Serikat minus 9,5 persem, dan Malaysia yang mengalami minus 8,4 persen.

“Artinya kondisi kita relatif lebih dibandingkan dengan beberapa negara tersebut karena sejak awal Presiden memberikan arahan untuk melakukan program dan fasilitas yang sifatnya counter cyclical untuk mendorong ekonomi domestik khususnya konsumsi masyarakat sehingga tidak membuat ekonomi kita terkontraksi lebih dalam lagi,” ujar Arif, Senin (10/8/2020).

Arif mengatakan, berdasarkan data Juli menunjukan adanya perbaikan seperti di manufacturing PMI yang meningkat dari 39,1 pada Juni menjadi 46,9 pada Juli, serta diharapkan pada bulan ini bisa lebih dari 50. Demikian juga pertumbuhan kredit perbankan yang mulai menunjukan adanya perbaikan pada Juli lalu.

“Oleh karena itu, jika momentum perbaikan ini bisa kita jaga dan tingkatkan, maka kuartal III ini ekonomi kita bisa segera pulih,” ujar dia.

Menurut Arif, untuk menopang perekonomian ke depan agar tumbuh positif, maka potensi ekonomi dalam negeri harus lebih dijaga. Konsumsi masyarakat, belanja pemerintah maupun investasi domestik pun harus didorong agar dapat tumbuh.

Karena itu, melalui berbagai program bantuan dan stimulus yang tengah dilakukan pemerintah saat ini diharapkan Indonesia dapat terhindar dari ancaman resesi ekonomi.

“Inilah yang juga menjadi concern Presiden agar stimulus yang ada dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) segera dilakukan, bantuan sosial, program padat karya, bantuan pembiayaan, dan stimulus lainnya akan dilakukan dengan cepat, agar masyarakat dan pelaku usaha segera merasakan manfaatnya dan Indonesia terhindar dari ancaman resesi ekonomi,” jelasnya, dikutip dari republika.

Arif mengatakan, kondisi ini tengah dialami oleh berbagai negara di dunia dan menjadi persoalan bersama. Karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah kerjasama global untuk mengatasi perlambatan ekonomi dunia tanpa mengabaikan protokol kesehatan.

“Demikian pula di dalam negeri, yang dibutuhkan adalah kerjasama seluruh komponen bangsa untuk menjalankan dan mensosialisasikan protokol AKB dan beraktivitas sesuai protokol tersebut,” tambahnya.(qq)

Anda mungkin juga berminat