Hasil Polling Jelang Pilkada Bekasi, Eka di Urutan Buncit

Pengamat: Hasil Metode Polling CABUP Bukan Mencerminkan Fakta

132

KAB.BEKASI (Garudanews.id) – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bekasi, baru akan dilaksanakan masih dua tahun lagi, tepatnya 2022. Tapi, sejumlah nama calon bupati (cabup) Bekasi sudah mulai bermunculan melalui polling di media sosial (medsos).

Misalnya, Eka Supria Atmaja, berada di urutan ke sembilan. Politikus dari partai Golkar itu mendapat suara menengah, pada polling daring yang berjudul ‘Siapakah Calon Bupati dan atau atau calon Wakil Bupati Bekasi pilihan anda pada 2022 mendatang? penjaringan 10 besar dari 25 kandidat,’ di laman pollingkita.com.

Berdasarkan urutan di poling tersebut, Arya Dwi Nugraha meraih 1308 suara. Kedua ada Budiyanto dengan 1263 suara, disusul Romli 1033 suara, Nyumarno 829 suara, Obon Tabroni 500 suara, Imam Hambali 391 suara, Jamil 289 suara, Mia Eldabo 246 suara lalu Eka Supriatmaja 231 suara.
Di bawahnya ada Sadudin 198 suara, Damin Sada 146 suara, Abdul Kholik 104 suara, Muhammad Nuh 81 suara, Ade Kuswara Kunang 80 suara, Mustakim 63 suara, Iin Farihin 61 suara, Soleman 59 suara, Omin Basuni 43 suara, KH Mahmud Al Hafidz 42 suara, Novy Yasin 38 suara, Tuti Nur Kholifah Yasin 34 suara, Amin Fauzi 33 suara, Akhmad Marjuki 33 suara, Meliana Kartika Kadir 21 suara, dan terakhir Cecep Noor 18 suara.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi, Arif Rahman Hakim, menyoroti hasil polling tersebut. Meskipun, kata dia, untuk polling yang dikeluarkan tersebut belum bisa menjadi acuan ukuran bagi partai Golkar.

“Kalau untuk poling itu kan biasa-bisanya saja. Tapi yang jelas, itu bukan tolak ukur bagi kami. Kecuali, yang melakukan survey dari lembaga yang sudah terverifikasi, barulah bisa kami komentari,” tuturnya kepada awak media, belum lama ini.

Namun Arif mengakui, saat ini, perkembangan politik menuju Pilkada, memang sudah bisa dirasakan. Termasuk, dengan munculnya polling disejumlah media daring (online).

“Hal itu sudah biasa, kalau mendekati musim politik pasti bermunculan,” ucapnya.
Sementara pengamat politik Bekasi, Adi Susila, mengakui, polling cabup Bekasi tersebut masih banyak kekeliruan dalam hal metode sampling yang diterapkan.

“Harus diperhatikan metode atau teknik polling-nya. Terutama sampling, saya rasa belum ideal,” ujar Adi.

Ia menilai, hasil polling yang dikeluarkan itu tidak mencerminkan fakta yang sesungguhnya. Bahkan, cenderung ada kepentingan tertentu.

“Hasil polling itu tidak mencerminkan fakta,” bebernya.

Dalam menentukan satu polling, tambah Adi, ada yang mesti diperhatikan. Sebab ada batas minimal atau ukuran satu polling bisa menjadi rujukan. Karena populasi poling, adalah seluruh wilayah Kabupaten Bekasi.

“Polling tersebut adalah wilayah Kabupaten Bekasi, maka sampelnya harus memenuhi kaidah ilmiah, supaya tidak bias. Sampel itu harus mencerminkan populasi. Seandainya menggunakan stratified random sampling, maka semua kecamatan, desa, rw dan rt harus terwakili,” pungkasnya. (Sygy)

Anda mungkin juga berminat