Akankah Penanganan Kasus Novel Baswedan Seperti Kasus Munir?

300

JAKARTA (Garudanews.id) – Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan hingga saat ini seolah luput dari sorotan publik, pascapemilu serentak masyarakat hanya disuguhkan dengan pemberitaan dinamika politik dalam negeri.

Kasus itu seolah mengulang peristiwa pembunuhan aktivis Munir yang hingga kini belum terungkap pelaku utamanya.

Padahal, publik sangat berharap agar otak utama pelaku penyiraman terhadap Novel dapat diseret ke pengadilan. Sementara, dalam program Nawacita pemerintahan Jokowi di awal kepemimpinannya salah satunya adalah penegakkan supremasi hukum.

Akan tetapi dalam kasus Novel Baswedan, hingga periode pertama pemerintahan Jokowi berakhir, kasus tersebut belum juga terungkap.

Sementara itu, hasil pengumuman KPU, Jokowi kembali terpilih untuk memimpin bangsa ini dalam lima tahun ke depan. Namun publik seolah pesimis untuk periode berikutnya di era pemerintahan Jokowi dapat membongkar kasus tersebut dan menjerat pelaku utamanya.

Tudingan dugaan keterlibatan oknum jendral dalam kasus tersebut semakin menguatkan bahwa kasus itu sulit dibongkar.

Pada bagian lain, tim gabungan yang dibentuk Polri untuk mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan sudah hampir lima bulan bekerja. Namun belum ada titik terang. Padahal, masa kerja tim itu hanya enam bulan.

Anggota tim advokasi Novel Baswedan, Alghiffari Aqsa mengatakan tim gabungan memang belum menunjukkan langkah signifikan dan melaporkan temuannya kepada publik sampai sekarang.

”Belakangan tim gabungan tersebut menjanjikan akan menyampaikan laporannya setelah pilpres (pemilihan presiden, Red), namun belum dilakukan,” ujarnya.

Alghif-sapaan akrab Alghiffari Aqsa- menyarankan kepada tim gabungan dan Polri untuk menyampaikan ketidaksanggupannya bila belum berhasil mengungkap siapa dalang di balik serangan teror Novel yang terjadi pada 11 April 2017 itu.

”Sehingga Presiden bisa segera membentuk tim gabungan pencari fakta independen,” jelas Direktur AMAR Law Firm and Public Interest Law Office itu, dilansir dari Jawapos, Minggu (9/6).

Tim advokasi Novel menyebut berlarutnya penanganan kasus teror yang masuk kategori pembunuhan berencana itu berpotensi menguap bila tidak segera diselesaikan.

Bahkan, yang lebih parah, bukti-bukti keterlibatan terduga pelaku terancam akan semakin sulit ditemukan.

”Kalau semakin lama tidak diungkap, alat bukti juga akan sulit ditemukan,” imbuh alumni LBH Jakarta itu. (Red)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.