Dampak Aksi Penolakan Hasil Pemilu, Rupiah Melemah

183

JAKARTA (Garudanews.id) –  Pengamat politik dan administrasi publik Bambang Istianto sudah menduga, aksi massa yang dilakukan oleh kelompok yang tidak puas dengan hasil Pemilu berdampak pada melemahnya mata uang rupiah.

Bambang juga mengkhawatirkan pelemahan rupiah itu bakal terus berlanjut bila pemerintah dan elit politik di negeri ini tidak bisa mengendalikan massanya.

“Kalau peristiwa ini tidak ada titik temu, dan pemerintah hanya memakai cara cara represif justru akan memicu kemarahan rakyat. Apalagi sudah ada jatuh korban. Tidak ada jalan lain semua komponen harus bertemu untuk menyelesaikan kemelut ini,” ujarnya.

Menurutnya, jangan sampai investor hengkang gara-gara stabilitas politik dalam negeri terus mencekam.

Sebelumnya, aksi massa dua hari berturut-turut yang dilakukan pendukung Prabowo-Sandi, menolak hasil Pemilu 2019, berdampak pada melemahnya mata uang rupiah.

Terpantau, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Rabu pagi ini (22/5) melemh melemah 10 poin atau 0,07 persen menjadi Rp14.490 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.480 per dolar AS.

Menurut Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, aksi unjuk rasa memprotes pengumuman KPU turut memberikan tekanan terhadap rupiah yang tengah dalam tren melemah.

“Pasar rupiah berpotensi berlanjut melemah dengan kondisi ini,” ujar Lana.

Hingga pukul 10.17 WIB, rupiah terus melemah menjadi sebesar 33 poin atau 0,22 persen menjadi Rp14.513 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Rabu menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.488 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.462 per dolar AS.

“Hari ini rupiah masih akan dalam penjagaan BI di kisaran Rp14.480 per dolar AS sampai Rp14.500 per dolar AS,” tutupnya.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.