Fenomena Tanah Bergerak Saat Gempa, Begini Menurut Pengamat

0
169

Oleh Mulyadi Nurdin, Lc, MH:

Gempa dengan kekuatan magnitudo 7,7 melanda Sulawesi Tengah Jumat (28/9).

Gempa tersebut disusul tsunami yang menerjang wilayah pesisir pantai.

Gempa dan tsunami di Palu dan Donggala ini memang tidak sedahsyat bencana serupa yang terjadi di Aceh, 26 Desember 2004.

Kala itu, gempa berkekuatan 9,1 pada Skala Richter yang menimbulkan gelombang tsunami setinggi 30 meter, menyapu hampir sebagian Kota Banda Aceh dan beberapa kawasan pesisir pantai di Sumatera dan 14 negara lainnya.

Gempa dan tsunami di Aceh mencatatkan lebih dari 230 ribu korban yang tersebar di 14 negara.

Sementara di Indonesia, terdapat 160 ribu jiwa korban meninggal dunia.

Dari sisi kekuatan gempa, ketinggian tsunami, dan jumlah korban jiwa, serta dampak ke beberapa negara, bencana yang terjadi di Palu dan Donggala memang tidak separah yang dialami oleh Aceh, 14 tahun lalu.

Namun, ada sebuah peristiwa mengangetkan dalam bencana alam di Palu dan Donggala, yang tidak dialami saat gempa dan tsunami di Aceh.

Peristiwa dimaksud adalah tanah bergerak atau likuifaksi yang terjadi di Petobo, Kota Palu saat gempa, Jumat (28/9) lalu.
Sejumlah pohon, rumah, dan bangunan lenyap “ditelan” bumi hanya dalam hitungan menit.

Fenomena likuifaksi (soil liquefaction) dapat dilihat melalui video yang beredar luas melalui media sosial, dimana terlihat bangunan dan pohon “berjalan”.

Fenomena ini sepertinya memang baru bagi kita di Indonesia.

Sehingga saya pun sempat ragu saat pertama kali menerima kiriman video rumah dan pohon yang bergerak terseret tanah itu.

Apakah benar kejadiannya setelah gempa di Palu dan Donggala?

Hingga saya pun sempat bergumam dalam hati, “jangan sebar-sebar hoax ah, kasihan para korban.”

Semuanya akhirnya terang benderang ketika akun Twitter @Sutopo_PN mengunggah video hasil rekaman citra Satelit WorldView dengan resolusi pixel 0.5 meter.

Video itu memperlihatkan detik-detik proses likuifaksi tanah yang terjadi di Perumahan Petobo, Kota Palu saat gempa, Jumat (28/9).

Likuifaksi dan Kisah dalam Alquran

Setelah itu, saya pun mulai bergerilya di dunia maya, mencari tahu tentang likuifaksi, sehingga bisa berupaya mengantisipasi segala kemungkinan jika peristiwa ini terjadi di tempat kita.

Hasil penelusuran, diketahui likuifaksi merupakan fenomena di mana kekuatan tanah berkurang karena gempa yang mengakibatkan sifat tanah dari keadaan padat (solid) menjadi cair (liquid).

Likuifaksi disebabkan tekanan berulang (beban siklik) saat gempa sehingga tekanan air pori meningkat atau melampaui tegangan vertikal.
Inilah yang menyebabkan benda-benda di sekitar lokasi jadi terseret.

Guncangan gempa meningkatkan tekanan air sementara daya ikat tanah melemah, hal ini menyebabkan sifat tanah berubah dari padat menjadi cair.

Peristiwa likuifaksi ini menenggelamkan banyak benda ke dalam tanah, di Desa Petobo saja ribuan rumah rusak. Wilayah tersebut tertutup lumpur seluas 180 hektare.

Lalu bagaimana Alquran memandang peristiwa rumah dan bangunan yang tertelan bumi tersebut?

Terdapat dua kisah di dalam Alquran yang di dalamnya menukilkan peristiwa tenggelamnya bangunan ke dalam bumi, yaitu kisah kaum Nabi Luth AS. Dan kisah Qarun, kaum Nabi Musa AS. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here