Komitmen Fee Proyek 7 Persen Hantarkan Politisi Demokrat Ini ke Jeruji Besi

0
183
Juru Bicara KPK Febri Diansyah. (Foto: Dar/garudanews.id)

JAKARTA (Garudanews.id)  – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kembali ditangkap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT). Kali ini yang ditangkap adalah anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Demokrat Amin Santono. Bersama Amin ditangkap juga tiga orang lainnya yakni Eka Kamaluddin dari pihak swasta, Yaya Purnomo pejabat Kasi Pengembangan Pendanaan Kawasan Perumahan dan Permukiman Ditjen Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan dan Ahmad Ghaist dari pihak kontraktor.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, keempatnya ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan karena diduga terkait kasus korupsi penerimaan hadiah atau janji terkait usulan dana Perimbangan Keuangan Daerah pada RAPBN-P TA 2018. Kronologi penangkapan berawal saat KPK mendapat informasi pertemuan antara Amin, Eka, Yaya, dan Ghaist di daerah Halim, Jakarta, Jumat (4/5).

Dalam penangkapan tersebut, ujar Saut, Tim Satgas KPK menemukan uang sebesar Rp400 juta yang dibungkus dalam dua tas. Uang tersebut diduga berasal dari Ghaist.  Tim Satgas  KPK lalu mengamankan kelima orang yang hadir dalam pertemuan tersebut dan langsung membawanya ke Gedung KPK untuk dilakukan pemeriksaan intensif. Dari lima orang yang ditangkap, supir Amin dilepaskan karena tidak terlibat langsung.

“Setelah pemeriksaan awal, KPK bergerak mengamankan YP (Yaya Purnomo)di kediamannya di daerah Bekasi, Jawa Barat. Di rumah tersebut, penyidik mengamankan uang selain Rp400 juta. Dan Tim juga mengamankan bukti transfer sebesar Rp100 juta dan dokumen proposal,” kata Saut di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (5/5).

Saut menerangkan, uang Rp500 juta tersebut merupakan bagian dari 7 persen komitmen fee yang dijanjikan oleh kontraktor untuk dua proyek di Pemkab Sumedang. Kedua proyek tersebut adalah proyek Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat senilai Rp4 miliar dan proyek di Dinas PUPR Kab. Sumedang senilai Rp21,850 miliar.

“Uang Rp500 juta diserahkan AGS (Ahmad Ghaist)  selaku pengepul uang proyek dan menyerahkannya kepada AMS (Amin Santono) secara cash sebesar Rp400 juta dan transfer sebanyak Rp 100 juta. Sedangkan diduga komitmen fee secara keseluruhan sekitar Rp 1,7 miliar,” jelasnya.

Ditahan 

Juru Bicara KPK Febri Diansyam mengatakan, dalam kasus ini pihaknya melakukan penahanan terhadap para tersangka. Amin Santono selaku tersangka ditahan di Rutan Klas I Jakarta Timur Cabang Rutan KPK K4. Anggota Dewan dari Fraksi Partai Demokrat itu ditahan selama 20 hari pertama masa penyidikan. Sementara Eka dan Yaya ditahan di Rutan Cabang KPK Pomdam Jaya Guntur. Sementara, kontraktor Ghaist ditahan di Rutan Polres Jakarta Pusat.

KPK menjerat Ghaist selaku pemberi suap melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1.  Sedangkan Amin, Eka, dan Yaya selaku penerima suap disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here